CHOOSE LANGUAGE:


English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bismillah

Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label MOTIVASI. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Juli 2014

SOPIR ANGKOT BOGOR BERHATI MULIA

Kisah Nyata Kebesaran Hati Supir Angkot di Bogor... Bener-Bener Bikin TERHARU nih.
Masih banyak orang baik, cerita ini saya dapatkan waktu saya iseng bareng teman saya naik angkutan kota dari Darmaga menuju Terminal Baranang siang, kota Bogor. Pengemudi angkot itu seorang anak muda, didalam angkot duduk 7 orang penumpang, termasuk kami. 

Masih ada 5 kursi yang belum terisi, seperti biasa di tengah jalan, angkot-angkot saling menyalip untuk berebut penumpang. Namun ada pemandangan aneh, didepan angkot yang kami tumpangi ada seorang ibu dengan 3 orang anak remaja berdiri di tepi jalan. Setiap ada angkot yang berhenti dihadapannya, dari jauh kami bisa melihat si ibu bicara kepada supir angkot, lalu angkot itu melaju kembali. 

Kejadian ini terulang beberapa kali. Ketika angkot yang kami tumpangi berhenti, si ibu bertanya: “Dik, lewat terminal bis ya?”, supir tentu menjawab “ya”. Yang aneh si ibu tidak segera naik. Ia bilang “ Tapi saya dan ke 3 anak saya tidak punya ongkos.” Sambil tersenyum, supir itu menjawab “Gak pa-pa bu, naik saja”, ketika si ibu tampak ragu, supir mengulangi perkataannya “ayo bu, naik saja, gak pa-pa ..” 

Saya terpesona dengan kebaikan Supir angkot yang masih muda itu, di saat jam sibuk dan angkot lain saling berlomba untuk mencari penumpang, tapi si Supir muda ini merelakan 4 kursi penumpangnya untuk si ibu dan anak-anaknya. 

Ketika sampai di terminal bis, 4 orang penumpang gratisan ini turun. Si Ibu mengucapkan terima kasih kepada Supir. Di belakang ibu itu, seorang penumpang pria turun lalu membayar dengan uang 20 ribu rupiah. Ketika supir hendak memberi kembalian (ongkos angkot hanya 4 ribu). Pria ini bilang bahwa uang itu untuk ongkos dirinya serta 4 orang penumpang gratisan tadi. 

“Terus jadi orang baik ya, Dik ” kata pria tersebut kepada sopir angkot muda itu... 

Sore itu saya benar-benar dibuat kagum dengan kebaikan-kebaikan kecil yang saya lihat. Seorang Ibu miskin yang jujur, seorang Supir yang baik hati dan seorang penumpang yang budiman. Mereka saling mendukung untuk kebaikan. Andai separuh saja Bangsa kita seperti ini, maka dunia akan takluk oleh kebaikan kita. Teruslah berbuat baik, sekecil apapun ketulusan yang kita perbuat tentunya sangat berarti bagi orang lain !!! Yakinlah janji Alloh SWT pasti adanya ...

Sumber: Catatan hidup sahabat di Facebook

Senin, 03 Februari 2014

TUKANG SOL SEPATU YANG IKHLAS

Cuaca hari ini sangat sangat panas. Mbah Sarno terus mengayuh sepeda tuanya menyisir jalan perumahan Condong Catur demi menyambung hidup. Mbah Sarno sudah puluhan tahun berprofesi sebagai tukang sol sepatu keliling. Jika orang lain mungkin berfikir “mau nonton apa saya malam ini?”, mbah Sarno cuma bisa berfikir “saya bisa makan atau nggak malam ini?”
 
Di tengah cuaca panas seperti ini pun terasa sangat sulit baginya untuk mendapatkan pelanggan. Bagi mbah Sarno, setiap hari adalah hari kerja. Dimana ada peluang untuk menghasilkan rupiah, disitu dia akan terus berusaha. Hebatnya, beliau adalah orang yang sangat jujur. Meskipun miskin, tak pernah sekalipun ia mengambil hak orang lain.

Jam 11, saat tiba di depan sebuah rumah mewah di ujung gang, diapun akhirnya mendapat pelanggan pertamanya hari ini. Seorang pemuda usia 20 tahunan, terlihat sangat terburu-buru.
Ketika mbah Sarno menampal sepatunya yang bolong, ia terus menerus melihat jam. Karena pekerjaan ini sudah digelutinya bertahun-tahun, dalam waktu singkat pun ia berhasil menyelesaikan pekerjaannya.
“Wah cepat sekali. Berapa pak?”
“5000 rupiah mas”

Sang pemuda pun mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya. Mbah Sarno jelas kaget dan tentu ia tidak punya uang kembalian sama sekali apalagi sang pemuda ini adalah pelanggan pertamanya hari ini.
“Wah mas gak ada uang pas ya?”
“Nggak ada pak, uang saya tinggal selembar ini, belum dipecah pak”
“Maaf mas, saya nggak punya uang kembalian”
“Waduh repot juga kalo gitu. Ya sudah saya cari dulu sebentar pak ke warung depan”
“Udah mas nggak usah repot-repot. Mas bawa dulu saja. Saya perhatikan mas lagi buru-buru. Lain waktu saja mas kalau kita ketemu lagi.”
“Oh syukurlah kalo gitu. Ya sudah makasih ya pak.”
=============================================================

Jam demi jam berlalu dan tampaknya ini hari yang tidak menguntungkan bagi mbah Sarno. Dia cuma mendapatkan 1 pelanggan dan itupun belum membayar. Ia terus menanamkan dalam hatinya, “ikhlas. Insya Alloh akan dapat gantinya.”
Ketika waktu menunjukkan pukul 3 lebih ia pun menyempatkan diri shalat Ashar di masjid depan lapangan bola sekolah. Selesai shalat ia berdoa.
“ya Alloh, izinkan aku mencicipi secuil rezekimu hari ini. Hari ini aku akan terus berusaha, selebihnya adalah kehendakmu.”
Selesai berdoa panjang, ia pun bangkit untuk melanjutkan pekerjaannya.

Ketika ia akan menuju sepedanya, ia kaget karena pemuda yang tadi siang menjadi pelanggannya telah menunggu di samping sepedanya.
“Wah kebetulan kita ketemu disini, pak. Ini bayaran yang tadi siang pak.”
Kali ini pemuda tadi tetap mengeluarkan uang seratus ribuan. Tidak hanya selembar, tapi 5 lembar.
“Loh loh mas? Ini mas belum mecahin uang ya? Maaf mas saya masih belum punya kembalian. Ini juga kok 5 lembar mas. Ini nggak salah ngambil mas?”
“Sudah pak, terima saja. Kembaliannya, sudah saya terima tadi, pak. Hari ini saya tes wawancara. Telat 5 menit saja saya sudah gagal pak. Untung bapak membiarkan saya pergi dulu. Insya alloh minggu depan saya berangkat ke prancis pak. Saya mohon doanya pak”
“Tapi ini terlalu banyak mas”
“Saya bayar sol sepatu cuma Rp 5000 pak. Sisanya untuk membayar kesuksesan saya hari ini dan keikhlasan bapak hari ini.”
=============================================================
Quote:
Alloh SWT punya cara tersendiri dalam menolong hamba-hambanya yang mau berusaha dalam kesulitannya. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan pertolongan itu tiba.
Keikhlasan akan dibalas dengan keindahan.

Sumber: Catatan FB dan http://agussas.wordpress.com

Minggu, 08 September 2013

PENGHARGAAN KE 113 GUBERNUR JAWA BARAT AHMAD HERYAWAN

Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan (Aher), meraih Anugerah Pelopor Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa) dalam puncak acara Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Harteknas) ke-18, di Gedung Sasono Utomo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Kamis (29/8/2013).

Penghargaan diberikan langsung oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek), Gusti Muhammad Hatta. Penghargaan itu merupakan yang ke-113 diterima Aher sejak kali pertama menjabat orang nomor satu di Jawa Barat, 2008.

Menurut Gusti, penghargaan itu layak diberikan kepada Aher karena ia dinilai salah satu gubernur yang proaktif dan memiliki prakarsa tinggi dalam mempelopori pelaksanaan penguatan SIDa di Jawa Barat.
“Ini bukti adanya respons dan sikap pro-aktif kepala daerah dalam mendukung kebijakan Pemerintah,” kata Gusti dalam dalam rilis yang diterima Okezone.

Penilaian atas penghargaan itu dilakukan tim gabungan dari Kemenristek dan Kemendagri. Penilaian meliputi keberpihakan gubernur dalam mewujudkan iptek yang mendorong daya saing daerah, sinergitas stakeholders iptek di daerah, serta prakarsa gubernur untuk mengembangkan tema-tema strategis di daerah.
“Penilaian juga dilakukan melalui fact finding dengan mengunjungi klaster yang diajukan Jawa Barat,” jelas Gusti.

Mendapat penghargaan ke-113, Aher bersyukur. Ia menyebut penghargaan itu sebagai bentuk pengakuan pemerintah pusat terhadap Pemprov Jawa Barat dan pihak terkait lainnya.
“Sudah tentu penghargaan ini dipersembahkan bagi masyarakat Jawa Barat," ungkap Aher.

Sementara itu, dasar Pengembangan SIDa, yaitu Peraturan Bersama Menristek dan Mendagri Nomor 03/2012 dan Nomor 36/2012 tentang Penguatan Sistem Inovasi Daerah (SIDa). SIDa adalah keseluruhan proses dalam satu sistem untuk menumbuhkembangkan inovasi yang dilakukan antar institusi pemerintah, pemerintah daerah, lembaga kelitbangan, lembaga pendidikan, penunjang inovasi, dunia usaha, dan masyarakat di daerah.

Kepala Bappeda Jawa Barat, Deny Juanda Puradimaja, mengatakan keberpihakan dan sikap pro-aktif Aher dalam mewujudkan iptek mendorong daya saing daerah. Di antaranya pembangunan Jawa Barat berbasis iptek, seni, dan budaya, sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 02 Tahun 2009 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) periode 2008-2013.

Sedangkan pembentukan Tim Koordinasi SIDa Provinsi Jawa Barat, kata Deny, menyusul dengan diterbitkannya Keputusan Gubernur Nomor 120/Kep.823-Bapeda/2013 tentang Tim Koordinasi SIDa Jawa Barat yang bertugas mengkoordinasikan penyelenggaraan SIDa di Jawa Barat, yang meliputi penataan, penguatan, dan pengembangan sistem inovasi daerah.


Mohon maaf ... ... ... saat ini Kang Aher sudah mendapatkan 116 penghargaan atas kepemimpinannya di Jawa Barat selama ini (sampai September 2013)
 

Rabu, 10 Juli 2013

2 KUNCI RAHASIA MENCAPAI SUKSES

Kisah dibawah ini adalah fiktif belaka, kesamaan nama, tempat ataupun cerita, tanggung sendiri-sendiri. Jadi jangan salahkan admin ya ^_^

Alkisah ada seorang pengusaha sukses di sebuah negeri antah berantah, Sebutlah nama pengusaha tersebut si bapak Okeh. Kesuksesan bapak Okeh tidak perlu dipertanyakan lagi, hampir seluruh bidang dijalaninya dan setiap usaha baru yang dijalani juga selalu berhasil. Pabriknya sudah mencapai 50 buah lebih, belum perumahan, toko, kebun ataupun perkantoran yang beliau miliki.

Pak Okeh memiliki keluarga yang bahagia, seorang istri dan dua orang anak lelaki yang diharapkan meneruskan usahanya. Untuk itulah pak Okeh mempersiapkan kedua anaknya sebaik mungkin. Dari mulai pendidikan formal sampai harus sekolah ke luar negeri, juga mengundang guru ekonom terbaik kerumahnya. Maklumlah, di negara pak Okeh, nepotisme udah jadi suatu keharusan.

Singkat cerita, pak Okeh merasa bahwa ajalnya sudah dekat. di panggilnya kedua anak kesayangannya.
"Anak-anakku, aku merasa sebentar lagi aku akan meninggalkan dunia ini. Untuk itulah aku akan membagikan warisan dan sebuah ilmu untuk menjadi pengusaha sukses seperti ayah kalian ini". Pak Okeh berhenti sejenak sambil menghela nafas.
"Untuk pembagian warisan, sudah ayah tulis dikertas ini". Pak Okeh memberikan beberapa lembar kepada pengacaranya. Lalu melanjutkan ucapannya, "Untuk 2 lembar terakhir, harap kalian tidak mengungkitnya karena memang sudah ayah persiapkan untuk beberapa yayasan yatim piatu milik ayah".

"Sekarang ingat baik-baik ilmu rahasia yang ayah jalankan hingga menjadi pengusaha yang sukses".
"Ada 2 buah pantangan yang harus kalian taati. Yang pertama, kalian jangan sampai terkena sinar matahari. Dan yang kedua: pantang bagi kalian menagih hutang kepada orang lain",
Bebetpa hari kemudian pak Okeh pun meninggal dunia.

Singkat ceritanya lagi nih..... 10 tahun kemudian kedua anak pak Okeh datang ke makam pak Okeh. Anak pertama mulai curhat, "Ayah.... 2 ilmu yang kau berikan sudah aku jalani. Aku tidak pernah terkena sinar matahari, aku membeli sebuah mobil dan rumah mewah untuk keluargaku agar tidak terkena matahari. Aku juga tidak pernah menagih hutang karena aku tidak mau meminjamkan uangku kepada orang lain... Tapi.. Kenapa sekarang aku BANGKRUT???"

Anak kedua pun bicara, "Terima kasih ayah, aku jalankan 2 ilmu yang kau berikan.... Aku tidak pernah terkena matahari karena aku selalu berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari tenggelam ... ... ... Aku juga tidak pernah menagih hutang kepada orang lain, karena aku selalu memberikan uangku kepada orang yang membutuhkan dan menganggapnya bukan hutang ... ... ... Sekarang usahaku bertambah maju berlipat-lipat karenanya..."

Inti dari cerita di atas adalah: Bagaimana ketika seseorang salah memahami ilmu atau pelajaran maka dia akan hancur. Sebaliknya, yang memahami dengan benar akan mendapat keberuntungan. Selain itu kunci sukses adalah RAJIN / ULET dan SEDEKAH... Berbagilah dengan sesama...

TETAP SEMANGAT ... ... ... KEEP FIGHTING


Minggu, 30 Desember 2012

DELISA TAK PERNAH PATAH SEMANGAT


"Mak, kaki adik mana? Kaki adik mana?" ratap Delisa Fitri Rahmadani, setiap tengah malam. Rintihan Delisa yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Kesdam Banda Aceh itu begitu menyayat batin ayahnya, Bachtiar (55) yang setia menunggui putri tercinta. "Hampir setiap malam dia menangis seperti itu," ujar Bachtiar.
Itulah ratapan asli Delisa yang sebenarnya ketika tersadar di rumah sakit 8 tahun yang lalu (2004).

Mungkin kita masih ingat nama itu .... Delisa. Banyak orang mengira bahwa sosok gadis cilik ini hanyalah rekaan Tere Liye sang penulis novel. Ya, apalagi setelah novel "Hafalan Shalat Delisa" diangkat ke layar lebar pada tahun 2011 oleh produser Chand Parwez Servia dan sutradara Sony Gaokasak. Kisahnya tentang Delisa, gadis cilik yang tinggal di Desa Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.

Dalam film tersebut Delisa digambarkan sebagai bungsu dari empat bersaudara yang periang dan manja. Saat tsunami terjadi semua keluarganya meninggal; ibu, dan ketiga kakaknya. Kecuali ayahnya yang saat itu bekerja di kapal tanker perusahaan minyak internasional.

Tsunami (atau dalam bahasa Simeulue disebut smong) juga merenggut sebelah kaki Delisa sehingga harus diamputasi. Setelah itu ia terpaksa menggunakan tongkat untuk berjalan. Tak lama setelah tsunami ayahnya pulang. Delisa kemudian menjalani hari-harinya dengan sang ayah. Delisa sempat frustasi menyadari kehilangan ini. Ia sedih. Namun akhirnya dengan dukungan ayah dan teman-temannya ia bangkit, menginsyafi  bahwa semua peristiwa adalah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Dahsyatnya, Delisa kemudian kembali bersemangat untuk menuntaskan hafalan shalatnya yang belum sempurna.

Tapi namanya film tentu tidak sama persis dengan aslinya. Yang pasti Delisa benar-benar korban gelombang ganas tsunami 26 Desember 2004. Kisahnya nyaris
sangat mirip dengan Delisa-nya Darwis Tere Liye. Bedanya Delisa yang asli ini bukan penduduk Lhok Nga. Delisa yang ini bernama lengkap Delisa Fitri Rahmadani. Ia biasa dipanggil Delisa. Kakinya telah diamputasi karena diterjang tsunami. Gadis yang memakai baju putih dan rok berwarna coklat tersebut lahir di Ulee Lheue Banda Aceh, 15 Desember 1997 silam.

Di acara refleksi delapan tahun tsunami Aceh yang digelar Forum Lintas Komunitas di Museum Tsunami Aceh kemarin siang (26/12), Delisa menjadi pusat perhatian. Banyak yang meminta tanda tangan padanya, ada juga yang minta foto bersama. Sebelumnya Delisa tampil di hadapan seluruh pengunjung untuk berbagi kisahnya hingga selamat saat tsunami.

Dengan bantuan tongkat gadis itu berdiri di tengah panggung. Kedua bola matanya terlihat berair. Dari mulutnya cerita demi cerita tentang peristiwa tsunami delapan tahun silam mengalir. Sesekali ia terlihat berhenti bercerita. Kadang suaranya terdengar terputus-putus, terutama saat menyebut ibunya.

Saat itu katanya ia masih berusia 8 tahun lebih 15 hari. Ia masih duduk di kelas 2 MIN Ulee Lheue Banda Aceh. Saat musibah tersebut ia kehilangan ibunya Salamah, dan juga ketiga saudara kandungnya. Ia juga kehilangan anggota tubuhnya, yaitu kaki sebelah kanannya yang harus diamputasi.

“Waktu itu kaki saya sudah membusuk. Telapak kaki sudah terkikis dan nampak tulangnya. Selama tiga hari setelah tsunami kaki saya hanya diberi betadine saja. Perihpun sangat luar biasa, melihat kondisi saya yang seperti itu, salah satu relawan mengatakan bahwa ada dokter dari Australia di Rumah Sakit Fakinah. Relawan itu juga bilang kamu harus terima apapun nanti hasilnya, saya pun siap dioperasi pada hari kelima,” ujarnya di atas panggung.

Kini Delisa menjalani hari-harinya dengan bantuan tongkat dan kaki palsu. Ia tinggal bersama ayahnya Bakhtiar, dan seorang abangnya yang selamat. Ia kini sekolah di SMK 5 Telkom Banda Aceh dan masih kelas satu. Delisa adalah remaja yang penuh semangat dan energik, saat masih SMP ia juga pernah mendapat juara umum. Gadis itu juga pandai memainkan alat musik keyboard.


“Saya berterima kasih kepada Alloh yang telah mengambil kaki saya, di luar sana banyak Delisa-Delisa lain yang mungkin lebih dari saya,” ujarnya.

Kelak Delisa ingin menjadi pemain musik dan pengarang buku. Ia juga ingin membuat komunitas untuk anak-anak cacat. 

Subhanallah. Dua
jempol untuk semangat bangkit Delisa dan kawan-kawan!
Do'a kami untuk kalian......

Selasa, 25 Desember 2012

DIALOG ANAK BANGSA ANTARA NO EXCUSE! DAN PRO EXCUSE

Excuse (dalih/ pembenaran) adalah salah satu penyakit paling berbahaya untuk bangsa ini. Sampai kapanpun kita tidak akan menjadi bangsa besar selama kita menemukan excuse untuk tidak menjadi bangsa besar.

Silakan simak dialog imajiner anak bangsa pro excuse dan pro no excuse:
No Excuse!: Percayakah kita bisa menjadi bangsa besar?
Pro excuse!: Susah kayaknya, bangsa kita sudah kebanyakan hutang.
No Excuse!: Buktinya Inggris dan negara Eropa yang hancur dan banyak hutang akibat perang dunia II sudah maju sekarang! Jadi hutang tidak bisa jadi excuse.

Pro excuse!: Tapi mereka (Bangsa Eropa) kan sudah punya basis ilmu dan intelektual. Banyak intelektual.
No Excuse!: Buktinya Malaysia yang dulu banyak belajar dari Indonesia, bangsa yang dulu basis intelektualnya kalah dengan Indonesia, sekarang lebih maju dari Indonesia. Jadi basis intelektual tidak bisa jadi excuse.

Pro excuse!: Ya tapi kan mereka (Malaysia) dijajahnya sama Inggris bukan sama Belanda jadi lebih maju dari Indonesia.
No Excuse!: Buktinya negara-negara Afrika yang dijajah Inggris sekarang banyak yang masih terbelakang,
kalah dengan Indonesia. Jadi siapa yang menjajah tidak bisa jadi excuse untuk kalah bersaing.

Pro excuse!: Jangan samakan dengan Afrika dong, biarpun di jajah Inggris, mereka kan memang bangsa terbelakang.
No Excuse!: Tapi kenyataannya Afrika Selatan kini menjadi negara yang sangat maju, sekalipun sebagian besar pos penting dipegang bangsa Afrika sendiri.

Pro excuse!: Betul, betul, tapi tetap saja susah, karena bangsa Indonesia kan penduduknya banyak.
No Excuse!: Tapi Cina yang penduduknya 5x lipat bangsa Indonesia kok bisa lebih maju.

Pro excuse!: Betul, tapi kan mereka penduduknya dipaksa dalam regim komunis, tidak bebas.
No Excuse!: Tapi penduduk Amerika lebih banyak dari Indonesia dan bebas tetap lebih maju...

Pro excuse!: Ya, Amerika kan punya sejarah panjang
No Excuse: Amerika baru ditemukan abad 17, kita sudah ada sejak 6 masehi.

Pro excuse: .... Sudah stop dulu... Saya bisa bikin dialog ini tidak pernah selesai.
Tapi yang paling penting... Jika kita ingin bangsa ini maju, kita harus temukan alasan untuk bisa maju.
Kalau yang kita cari dalih (excuse) untuk tetap begini-gini saja, sangat mudah menemukan alasannya.

Mau membuat bangsa kita menjadi bangsa besar?
Pasti Bisa!
Apakah Anda No Excuse! atau Pro excuse! 

Oleh:  Isa Alamsyah

Rabu, 31 Oktober 2012

URGENSI PENDIDIKAN KEWIRAUSAHAAN

Pengembangan entrepreneurship (kewirausahaan) adalah kunci kemajuan. Mengapa? Itulah cara mengurangi jumlah penganggur, menciptakan lapangan kerja, mengentaskan masyarakat dari kemiskinan dan keterpurukan ekonomis. Lebih jauh lagi dan politis, meningkatkan harkat sebagai bangsa yang mandiri dan bermartabat.

Dalam ranah pendidikan, persoalannya menyangkut bagaimana dikembangkan praksis pendidikan yang tidak hanya menghasilkan manusia terampil dari sisi ulah intelektual, tetapi juga praksis pendidikan yang inspiratif-pragmatis. Praksis pendidikan, lewat kurikulum, sistem dan penyelenggaraannya harus serba terbuka, eksploratif, dan membebaskan. Tidak hanya praksis pendidikan yang link and match (tanggem), yang lulusannya siap memasuki lapangan kerja, tetapi juga siap menciptakan lapangan kerja.

Panelis Agus Bastian menangkap gejala yang berkebalikan di lingkungan terdekatnya, Kota Yogyakarta. Di satu sisi bermunculan banyak entrepreneur muda yang kreatif. Mereka jeli menangkap peluang menjawab kebutuhan komunitas kampus. Misalnya bisnis refil tinta, merakit komputer, jual beli buku, cuci kiloan, melukis sepatu (sebelumnya tentu saja yang sudah lama melukis kaus) sama seperti rekan-rekan mereka di kota lain, seperti Bandung. Sebaliknya, pada saat yang sama, rekan-rekan mereka berebut tempat meraih kursi pegawai negeri. Ribuan anak muda terdidik berdesakan antre mendaftar, mengikuti ujian saringan, bahkan ada yang perlu merogoh kocek ratusan ribu untuk pelicin.

Ditarik dalam konteks nasional, pengamatan Bastian itulah miniatur kondisi ketenagakerjaan Indonesia, lebih jauh lagi potret lemahnya jiwa kewirausahaan.Misalnya, bahkan untuk sarjana yang relatif potensial terserap di lapangan kerja pun, sampai pertengahan tahun lalu 70 persen dari 6.000 sarjana pertanian lulusan 58 perguruan tinggi di Indonesia menganggur. Merekalah bagian dari 9,43 juta atau 8,46 % jumlah penduduk pada Februari 2008.

Tidak imbangnya jumlah pelamar kerja dan lowongan kerja, gejalanya merata di seluruh pelosok bahkan jumlah penganggur terdidik semakin membesar, menunjukkan kecilnya jiwa kewirausahaan. Para lulusan lebih tampil sebagai pencari kerja dan belum sebagai pencipta lapangan kerja. Tidak terserapnya lulusan pendidikan ke lapangan kerja memang tidak sepenuhnya disebabkan faktor tak adanya jiwa kewirausahaan.
Banyak faktor lain menjadi penyebab.

Meskipun demikian, tampaknya faktor dan tantangan terpenting adalah bagaimana institusi pendidikan berhasil membentuk atau menanamkan semangat, jiwa, dan sikap kewirausahaan. Sebagai disiplin ilmu, kewirausahaan bisa diajarkan lewat sistem terstruktur, salah satu hasil penting dan utama praksis pendidikan. Lembaga pendidikan tidak dapat memberikan pekerjaan, tetapi bisa memastikan agar hasil didik mampu menciptakan pekerjaan.

Mengutip Peter F Drucker, pakar manajemen yang kondang pada tahun 1990-an, kewirausahaan itu bukan bimsalabim, apalagi berurusan dengan keturunan. Singapura dengan memiliki 4 persen wirausaha dari total penduduknya, sementara Indonesia baru 0,18 persen dari total sekitar 225 juta penduduk, bukan karena mayoritas penduduknya beretnis China dan Indonesia mayoritas Jawa. Ketimpangan itu disebabkan kurang terselenggaranya praksis pendidikan yang membuka ke arah kreativitas dan temuan-temuan bersama.

Inisiatif pada tahun 2010 ini Kementerian Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mengalokasikan dana Rp 50 miliar untuk mencetak 10.000 sarjana wirausaha perlu dihargai. Proyek itu menambah adrenalin Kementerian Pendidikan Nasional yang lama terengah-engah dengan masalah-masalah teknis dan sistem. Dana UKM itu digunakan untuk pemberdayaan sarjana di bawah usia 30 tahun yang masih menganggur. Sejak digulirkan Desember 2009 dan telah disosialisasikan ke sembilan provinsi, program ini diikuti 4.525 sarjana dan akan berlangsung sampai tahun 2014 dengan target tahunan tercipta 10.000 atau seluruhnya 50.000 wirausaha baru hingga tahun 2014.

Memang terlambat, sebab justru kewirausahaan seharusnya ditanamkan sejak di jenjang pendidikan anak usia dini dan bukan dicangkokkan setelah lulus. Namun, tak ada kata terlambat untuk suatu perbaikan. Program ini merupakan bagian dari upaya memperbesar jumlah wirausaha Indonesia.
Tercatat jumlah 48 juta wirausaha Indonesia, tetapi yang benar-benar wirausahawan sejati sebenarnya hanya 0,1 persen atau sekitar 400.000 orang. Minimal dari jumlah total penduduk, setidaknya Indonesia harus memiliki 2 persen dari jumlah itu. Upaya itu sejalan dengan ” impian” Ciputra, salah satu entrepreneur Indonesia yang obses, bahwa pada 25 tahun lagi lahir 4 juta entrepreneur Indonesia.

Kewirausahaan memang masih merupakan barang baru untuk Indonesia, sementara AS sudah mengenalnya sejak 30 tahun lalu dan Eropa 6-7 tahun lalu. Munculnya entrepreneur sebagai hasil lembaga pendidikan dan buah learning by doing masih ada perbedaan persepsi. Ada yang berpendapat jiwa kewirausahaan tidak harus dihasilkan dari lembaga pendidikan, ada pendapat lain bisa dilakukan tidak lewat proses yang direncanakan.

Menurut panelis Agus Bastian, entrepreneur dan kemudian politisi yang merasa sebagai entrepreneur lahir dari jalanan, yakin kewirausahaan bisa dihasilkan juga dari semangat mengambil risiko tanpa takut, bukan lewat pendidikan khusus kewirausahaan atau manajemen. Modal utama seorang entrepreneur bukanlah uang, melainkan kreativitas. Tanpa kreativitas, syarat utama seorang calon entrepreneur, yang ada bukanlah entrepreneur sejati, melainkan pedagang.
Keyakinan Agus didukung panelis Agung Waluyo. Seorang entrepreneur jadi dari sosok seorang pedagang atau juragan. Sebab, kewirausahaan menawarkan dan menciptakan nilai, sementara jiwa dagang hanya menawarkan alternatif.

Ada contoh, seorang sarjana lulusan UGM menciptakan nilai mau membantu yang sama-sama jadi korban gempa bulan Mei 2006. Dia buat desain pakaian Muslim. Dia tawarkan lewat internet atas mentoring langsung Ciputra. Usahanya berkembang, bahkan sekarang sudah merambah mancanegara di tiga benua besar, sampai akhirnya dia merasa tak sanggup lagi melayani permintaan pasar. Tetapi, ia sudah menciptakan nilai untuk desanya, menciptakan lapangan kerja baru.

Contoh kasus itu menunjukkan, sikap menolong orang lain diwujudkan untuk orang lain. Nilainya bukan hanya miliknya sendiri, tetapi milik orang lain juga. Yang dia lakukan adalah menginspirasikan generasi muda bahwa mereka bisa menjadi berkah bagi masyarakat. Sosok sarjana lulusan UGM di atas mirip jiwa kewirausahaan Mangunwijaya, terutama dalam konteks menciptakan nilai untuk orang lain (social entrepreneurship, kewirausahaan sosial).

Selain Kementerian Urusan Koperasi dan UKM, Kementerian Pendidikan Nasional yang bertanggung jawab dalam urusan pendidikan perlu diakui belum lama tanggap. Walaupun masih terengah-engah bergulat dengan soal-soal teknis, bekerja sama dengan lembaga penggiat wiraswasta seperti Ciputra Entrepreneurship Center, Kementerian Pendidikan Nasional melakukan upaya membangun jiwa kewirausahaan. Dilakukan dengan membenahi kurikulum berbasis komunitas, memperbaiki praksis pendidikan di sekolah kejuruan dan tinggi, sampai pada pengarbitan calon-calon entrepreneur yang dicangkokkan di lembaga pendidikan tinggi.

Banyaknya industri kreatif yang dihasilkan bangsa ini menunjukkan sebenarnya bangsa ini kreatif. Tetapi, mengapa kekayaan alam dan kekayaan budaya dengan segala keragamannya itu tidak dimanfaatkan untuk ekonomi?
Karena kita tidak kreatif. Karena kita tidak punya jiwa kewirausahaan yang dengan gampang terbelokkan karena sejak awal pun bangsa ini terbelenggu tidak dibesarkan dalam budaya wirausaha. Melalui kewirausahaan sebenarnya anugerah alam raya Indonesia bisa dimanfaatkan untuk kemajuan dan kesejahteraan bangsa.

Gerakan nasional
Masalahnya, apakah yang perlu dipelajari generasi muda mengembangkan jiwa kewirausahaan?
Kepercayaan diri menjadi modal utama, selain sikap dan kemauan terus menemukan yang baru tanpa kenal risiko. Kewirausahaan membuat orang yang berhasrat besar terhadap sesuatu menjadi mandiri secara finansial dan berkontribusi untuk masyarakat. Dia melatih keterampilan, know-how, dan tindakan yang menghasilkan ide-ide dan inovasi, meyakinkan orang lain untuk menolong dan bekerja dalam sebuah tim, menerjemahkan ide menjadi kenyataan, dan mendirikan perusahaan.

Dalam konteks Indonesia, dengan kecilnya jumlah entrepreneur, kewirausahaan menjadi keharusan.
Dialah kunci kemajuan. Dunia membutuhkan solusi masalah yang bisa mewujudkan impian jadi kenyataan, dilandasi ambisi dan keberanian mengambil risiko secara cerdas. Menanamkan jiwa kewirausahaan perlu dimulai dini dalam praksis pendidikan mengusung kebebasan, sebagai contoh SD Mangunan di Sleman dan Sanggar Anak Alam di Bantul.
Masih banyak yang lain, yang umumnya kembali pada dasar paling mendasar dari praksis pendidikan, yakni praksis pembelajaran yang membebaskan yang kadang direcoki dengan pendekatan teknis dan persoalan remeh-temeh mengganggu seperti kasus ujian nasional atau UU Badan Hukum Pendidikan.
Dibutuhkan satu gerakan nasional, semacam Gerakan Kewirausahaan berbasis komunitas untuk melahirkan
UKM-UKM baru di satu pihak, sekaligus praksis pendidikan yang berorientasi pada pendidikan yang membebaskan di atas habitat masyarakat yang kondusif positif menyangkut 3 L (lahir, lingkungan, latihan).
Gerakan baru itu dirumuskan oleh Ciputra sebagai Gerakan Budaya Wirausaha yang melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, dan sosok-sosok sosial.
Itulah tantangan mendesak Indonesia yang seharusnya menjadi batu penjuru dan batu sendi praksis pendidikan; dan sebaliknya menjauhkannya dari keterjebakan ”kekeliruan yang satu ke kekeliruan yang lain” yang bersifat teknis-metodis-yuridis.

Senin, 13 Juni 2011

LIHATLAH LEBIH DALAM, JANGAN HANYA MELIHAT DENGAN MATA SAJA

Sangat sering kita sebagai manusia hanya melihat sesuatu dengan mata saja. Kita lebih sering "males" untuk mengetahui apa sebenarnya yang kita lihat, padahal apa yang kita lihat atau dengar tidaklah selalu kelihatan sebagaimana adanya. Padahal kita sebagai manusia diberikan kelebihan akal dan pikiran oleh sang Pencipta dibandingkan mahluk lain di bumi ini.

Cerita dibawah ini (walaupun hanya sekedar cerita fiktif) adalah sebuah contoh bahwa apa yang terjadi tidak selamanya sesuai dengan apa yang terlihat.

Dikisahkan, dua orang yang sangat sakti berkunjung ke rumah sebuah keluarga kaya raya. Keluarga itu sangat kasar dan tidak mengijinkan kedua orang sakti itu bermalam di ruang tamu yang ada di rumahnya. Kedua orang tersebut ditempatkan di sebuah kamar berukuran kecil yang ada di basement.

Ketika mereka hendak tidur, orang sakti yang lebih tua melihat bahwa dinding basement itu retak. Seketika orang sakti itu memperbaikinya sehingga retak pada dinding basement itu lenyap dengan seketika. Ketika orang sakti yang lebih muda bertanya mengapa ia melakukan hal itu, orang sakti yang lebih tua menjawab: "Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya".

Malam berikutnya, keduanya beristirahat di rumah seorang petani dan istrinya yang miskin tetapi sangat ramah. Setelah membagi sedikit makanan yang ia miliki, petani itu mempersilahkan kedua orang sakti itu untuk tidurdi atas tempat tidurnya.

Ketika matahari terbit keesokan harinya, orang sakti yang lebih muda menemukan bahwa petani dan istrinya sedang menangis sedih karena sapi mereka yang merupakan sumber pendapatan satu-satunya bagi mereka telah mati. Dan hal ini membuat orang sakti muda tersebut merasa geram.
Ia bertanya kepada yang lebih tua: "Mengapa kau membiarkan hal ini terjadi? Keluarga yang pertama memiliki segalanya, tapi engkau menolong menutup dindingnya yang retak.
Keluarga ini hanya memiliki sedikit tetapi walaupun demikian mereka bersedia membaginya dengan kita. Mengapa engkau membiarkan sapinya mati?"

Yang lebih tua menjawab:
"Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya".
"Ketika kita bermalam di basement, aku melihat ada emas tersimpan di lubang dalam dinding itu. Karena pemilik rumah sangat tamak dan tidak bersedia membagi hartanya, aku menutup dinding itu agar ia tidak menemukan emas itu."
"Tadi malam ketika kita tidur di ranjang petani ini, ada suatu mahluk datang untuk mengambil nyawa istrinya. Aku memintanya agar istri petani itu tidak diambilnya, akhirnya sapi itulah penggantinya. Sesuatu tidak selalu kelihatan sebagaimana adanya."

Kadang-kadang itulah yang kita rasakan ketika kita berpikir bahwa sesuatu tidak seharusnya terjadi. Jika kita punya iman, kita hanya perlu percaya sepenuhnya bahwa semua hal yang terjadi adalah demi kebaikan kita. Kita mungkin tidak menyadari hal itu sampai saatnya tiba.

APAPUN YANG ALLOH BERIKAN KEPADA KITA ADALAH HAL YANG TERBAIK. KITA SENDIRILAH YANG MENGANGGAPNYA TIDAK BAIK.

Senin, 16 Mei 2011

SEBERAPA SERING ANDA TERJATUH ???

Apakah Anda suka bermain sepeda, merasakan asyiknya ditiup angin dan menari di atas roda yang bergulir? Tentu saja sebelum mahir bersepeda, Anda pasti sempat belajar dan jatuh bangun bukan?

Awalnya Anda akan menjejakkan kaki, berusaha agar bisa berdiri seimbang di atas dua roda itu. Perlahan salah satu kaki Anda dijejakkan agak keras agar sepeda melaju ke depan.

Tak lama kemudian, sesekali sebelah kaki Anda mencoba mengayuhnya. Dan satu detik, dua detik, sepeda Anda melaju ke depan. Namun, kemudian, GUBRAKK! Anda jatuh.

Saat Anda jatuh dari sepeda, akankah Anda berhenti? Seingat saya, tidak. Seseorang yang belajar bersepeda, selalu bersemangat dan tak pernah berhenti sekalipun lutut sudah terluka dan siku tergores kerikil di jalanan.

Kembali sepeda dinaiki, dan pedal dikayuh walau lutut terasa pedih. Beberapa kali terseok dan hampir terjatuh, namun kali ini kaki Anda langsung merespon sehingga sepeda tetap berdiri kokoh. Dan siapa sangka, usaha gigih Anda kemudian membuahkan hasil. Sesekali sepeda dikayuh dan melaju ke depan. Intensitas jatuh mulai berkurang, dan digantikan dengan jalan-jalan setapak yang Anda jelajahi. Indah bukan?

Demikian pula dengan hidup ini. Hidup di mana akhir-akhir ini Anda sering mengeluh karena masalah muncul silih berganti. Anda yang gagal dan 'jatuh' merasa tak sanggup lagi 'mengayuh'. Keinginan Anda berdiri di atas roda kehidupan mulai pudar. Digantikan dengan isak tangis manja yang semakin lama makin memupuskan harapan. Hei, di manakah keberanian Anda itu? Ke manakah semangat yang dulu pernah Anda punya?

Hapus air mata itu, sahabat. Ingat kembali masa-masa di mana Anda belajar mengayuh sepeda. Sekalipun lutut dan siku sudah pedih, Anda tak jua berhenti. Dan perjuangan memang sungguh berarti jika Anda mengabaikan keluhan-keluhan kecil itu. Tak perlu takut 'jatuh' dan terluka, karena di depan sana jalanan indah nan liar masih belum Anda lewati. Mari, kembali mengayuh lagi.

Kamis, 28 April 2011

HARAPAN HARUS SELALU ADA

Ada 4 lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh. Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai.” “Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja !” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.”
“Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta.”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”
“Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…
Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan !”

Lalu ia mengangis tersedu-sedu. Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata: Jangan takut, janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya: “Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.
Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita ….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!

Sabtu, 23 April 2011

MENGASAH KEMAMPUAN DIRI

oleh : Andrie Wongso

Alkisah, seorang pedagang kayu menerima lamaran seorang pekerja untuk menebang pohon di hutannya. Karena gaji yang dijanjikan dan kondisi kerja yang bakal diterima sangat baik, maka calon penebang pohon itu pun bertekad untuk bekerja sebaik mungkin.

Saat mulai bekerja, si majikan memberikan sebuah kapak dan menunjukkan area kerja yang harus diselesaikan dengan target waktu yang telah ditentukan kepada si penebang pohon.

Hari pertama bekerja, ia berhasil merobohkan delapan batang pohon. Sore hari, mendengar hasil kerja si penebang, sang majikan terkesan dan memberikan pujian dengan tulus. "Hasil kerjamu sungguh luar biasa! Saya sangat kagum dengan kemampuanmu menebang pohon-pohon itu. Belum pernah ada yang sepertimu selama ini. Teruskan bekerja seperti itu."

Karena sangat termotivasi oleh pujian majikannya, keesokan hari si penebang bekerja lebih keras lagi. Tetapi dia hanya berhasil merobohkan tujuh batang pohon. Hari ketiga, dia bekerja lebih keras lagi, tapi hasilnya tetap tidak memuaskan, bahkan mengecewakan. Semakin bertambah hari, semakin sedikit pohon yang berhasil dirobohkan.

"Sepertinya aku telah kehilangan kemampuan dan kekuatanku. Bagaimana aku dapat mempertanggungjawabkan hasil kerjaku kepada majikan?" pikir penebang pohon, merasa malu dan putus asa. Dengan kepala tertunduk dia menghadap kepada sang majikan, meminta maaf atas hasil kerja yang kurang memadai dan mengeluh tidak mengerti apa yang telah terjadi.
Sang majikan menyimak dan bertanya kepadanya, "Kapan terakhir kamu mengasah kapak?"
"Mengasah kapak? Saya tidak punya waktu untuk itu! Saya sangat sibuk setiap hari menebang pohon dari pagi hingga sore dengan sekuat tenaga," kata si penebang.

"Nah, di sinilah masalahnya. Ingat hari pertama kamu kerja? Dengan kapak baru dan terasah, maka kamu bisa menebang pohon dengan hasil maksimal. Hari-hari berikutnya, dengan tenaga yang sama, menggunakan kapak yang sama, tetapi tidak diasah. Kamu tahu sendiri, hasilnya semakin menurun. Maka, sesibuk apapun, kamu harus meluangkan waktu untuk mengasah kapakmu, agar setiap hari bisa bekerja dengan tenaga yang sama dan hasil yang maksimal. Sekarang, mulailah mengasah kapakmu dan segera kembali bekerja!" perintah sang majikan. Sambil mengangguk-anggukkan kepala dan mengucap terima kasih, si penebang berlalu dari hadapan majikannya untuk mulai mengasah kapak.

Pembaca yang berbahagia,

Sama seperti si penebang pohon, kita pun setiap hari, dari pagi hingga malam hari, seolah terjebak dalam rutinitas terpola. Sibuk, dan sibuk terus, sehingga seringkali melupakan sisi lain yang sama pentingnya, yaitu istirahat sejenak, "mengasah" dan mengisi hal-hal baru untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan spiritual.

Seperti pepatah Mandarin yang mengatakan istirahat bukan berarti berhenti, tetapi untuk menempuh perjalanan yang lebih jauh lagi. Tentunya istirahat kita seharusnya menjadi istirahat yang berkualitas dan bukan untuk bermalas-malasan. Jika kita mampu mengatur ritme kegiatan seperti ini, pasti kehidupan kita akan dinamis!

Salam sukses, luar biasa!

Kamis, 03 Maret 2011

Sudahkan Anda Membuat Target Yang Jelas? (Oleh Isa Alamsyah)

Saya yakin banyak di antara kita yang sudah mempunyai target atau keinginan untuk dicapai di tahun ini. Tapi apakah kita sudah membuat target atau rencana tertulis?
Kalau cuma sekedar "Saya ingin tahun 2011, lebih baik" wah, maaf itu "OMONG KOSONG"
Kita harus membuat rencara tertulis dan detail, jadi harus di tulis! tulis! dan tulis!

Jika ingin ada perubahan yang monumental, maka kita harus memulai dengan langkah di antaranya:
1. Buat rencana tertulis (kalau bisa divisualisaikan), misalnya:
Pekerjaan:
Saya ingin naik jabatan atau karir!
Saya ingin punya proyek baru!
Saya ingin punya bisnis baru!

Keuangan:
Saya ingin penghasilan meningkat!

Aset:
Saya mau punya mobil baru!
Saya mau beli rumah!

Keluarga:
Saya ingin anak-anak lebih baik
Saya ingin hubungan suami istri lebih harmonis.

Keagamaan: Saya ingin iman meningkat

Kepribadian: Saya ingin menjadi lebih baik

Catatan: Kalau perlu rencana jangka panjang. Tulis dream atau keinginan setinggi-tingginya, jangan batasi dengan kemampuan yang ada saat ini.

Jack Canfield pernah menulis cek US$ 100.000 untuk dirinya, ia tidak tahu nanti dapat dari mana, pokoknya dia tulis dan ditempel di langit-langit tempat tidurnya. Tiba-tiba ia dapat bisnis dan untung US$ 100.000. Lalu ia pikir, kenapa tidak coba US$ 1 juta, lalu ia tulis check untuk dirinya senilai US$ 1 juta. Dan ia berhasil mendapat US$ 1 juta pertamanya dari buku Chicken Soup of the Soul.

Bill Clinton memajang gambar gedung putih di depan meja kerjanya, setiap hari ia melihat gambar gedung putih dan percaya "One day I will be there" dan ia menjabat 2 kali masa jabatan.

2. Target harus detail.
Kalau cuma sekedar tulisan di atas, masih "SAMA AJA BOHONG", juga tidak banyak merubah apa apa, tapi rencana harus detail.

Pekerjaan: Saya ingin naik jabatan atau karir! (Naik jadi apa, penempatan di mana?).

Saya ingin punya proyek baru! (Proyek sebesar apa? Dimana?).

Saya ingin punya bisnis baru! (Bisnis bidang apa? Mulai bisnis di mana?)

Keuangan: Saya ingin penghasilan meningkat! (Penghasilan dari mana? Dari
pekerjaan sekarang saja? Atau dari penghasilan lain?)

Aset: Saya mau punya mobil baru! (Merknya apa? Warnanya apa? Automatic atau manual?)

Saya mau beli rumah! (Sebesar apa? Lokasinya?

Keluarga: Saya ingin anak-anak lebih baik (Jadi lebih baik bagaimana? Tidak berbohong lagi? Tidak pre occupied dengan Handphone, tidak membuat masalah?)

Saya ingin hubungan suami istri lebih harmonis. (harmonis bagaimana? Tidak berdebat lagi? Hindari kekerasan? Lebih sering jalan-jalan, kurangi shopping - wah bad idea buat ibu-ibu ya-, lebih sering di rumah?)

Keagamaan: Saya ingin iman meningkat (apa sering ke rumah ibadah, perbanyak puasa senin kamis, perbanyak tahajud, menambah hapalan?, ikut pengkajian agama?)

Kepribadian: Saya ingin menjadi lebih baik (jadi lebih jujur, tidak suka emosional, dsb)

3. Buat rencana, check list dan pentahapan untuk mencapai target. Rencana cuma dua "Membuat Rencana GAGAL" atau "Gagal membuat rencana". Semua pasti tidak mau membuat rencana gagal, tapi banyak yang gagal membuat rencana.

Kita harus membuat tahapan untuk mencapat target kita. Salah satu kunci kesuksesan Michael Jordan adalah, ia selalu membuat target dan menyederhanakan pentahapannya.
Dalam setiap pertandingan ia mempunyai target skor pribadi. Lalu ia membagi, setiap 5 menit berapa skor yang harus dicapai. Setiap satu menit harus berapa. Jadi dalam pertandingan ia sudah mengukur targetnya tercapai atau tidak, kalau belum ia tingkatkan mobilitasnya. Kalau ada yang memblok Jordan, seusai pertandingan ia mencatat nama-nama yang membloknya. Dan di masa depan ia bertekad menaklukkan mereka.

Sekarang bagaimana
rencananya, tahapannya?
Pekerjaan: Saya ingin naik jabatan atau karir! (lewat jalur mana, harus melakukan apa?)

Saya ingin punya proyek baru! (hubungi siapa, mengirim proposal kemana?)

Saya ingin punya bisnis baru! (siapa partnernya? dimana bukanya?)

Keuangan: Saya ingin penghasilan
meningkat! (Sumbernya dari mana, selain pekerjaan sekarang?)

Aset: Saya mau punya mobil baru! Saya mau beli rumah! (Sistem pembayarannya? Ke Bank mana apply?)

Keluarga: Saya ingin anak-anak lebih baik (Acara apa yang sebaiknya diadakan untuk mempererat keluarga, jalan-jalan kemana?)

Saya ingin hubungan suami istri lebih harmonis (harus buat program apa? honey moon lagi?)

Keagamaan: Saya ingin iman meningkat (mau ikut pengkajian agama di mana, siapa guru agama yang OK, kumpul dengan komunitas apa sebaiknya?)

Kepribadian: Saya ingin menjadi lebih baik (Baca buku apa sebaiknya, kumpul dengan siapa sebaiknya)

Ini sekedar ide, silahkan buat plan masing-masing. Anda akan takjub menyadari betapa plan tertulis untuk pribadi akan begitu powerful untuk mengubah hidup Anda.

Jumat, 07 Januari 2011

GEMA 165 Gelar Seminar Nasional Kewirausahaan

Gerakan Pemuda 165 (GEMA 165) telah menyelenggarakan Forum Bisnis Golden Generation bernama Seminar Nasional Kewirausahaan dengan tema “How to Be Youth Spiritual Entrepreneur” di Menara 165, Cilandak, Jakartra Selatan, Sabtu (15/12).

Seminar ini dihadiri narasumber yang berkompeten dibidangnya dan sukses berbisnis di usia muda. Diantaranya;
Elang Gumilang seorang mahasiswa beromset 17 Milyar,
Hendy Setiono seorang pengusaha sukses,
dr. Abbi Angkasa selaku moderator dan juga pengusaha, dan
Ridwan Mukri seorang trainer ESQ dan penulis buku.

Kegiatan yang dimulai pukul 19.00 WIB dihadiri lebih dari 200 peserta. Mereka yang hadir tergabung di dalam 3G (3 Generasi), diantaranya SHOT 165 (Silaturahmi of Teens 165), FOSMA 165 (Forum Silaturahmi Mahasiswa 165), dan GEMA 165 (Gerakan Pemuda 165), serta juga masyarakat umum.

Di dalam seminar, Elang Gumilang selaku Chairman Elang Group mengatakan, “Siapa bilang jadi wirausahawan sukses itu gampang dan cepat? Butuh perjuangan dan pengorbanan, karena proses inilah yang membuat kita kuat di kemudian hari. Tidak ada cara instan !”
Elang merupakan seorang pengusaha yang menapaki karirnya dimulai dari bawah.

Awal karirnya dimulai ketika masih mengeyam pendidikan, yaitu di SMU.
Kala itu ia mencoba berdagang dengan berjualan roti dan donat dibeberapa sekolah. Usahanya dilanjutkan pada tahun 2003/2004 ketika menjadi mahasiswa, Elang mencoba berdagang sepatu, supplier lampu, dan supplier minyak goreng sawit. Tak hanya berhenti sampai disitu, pada tahun 2005, ia juga mendirikan kursus bahasa Inggris. Upayanya yang selalu konsisten dalam berwirausaha menjadikannya di tahun 2006 sampai dengan sekarang menjadi CEO dan Owner Perusahaan Konstruksi dan Developer.

Meskipun sukses menjadi pengusaha di usia muda tapi ia tak lupa dengan masyarakat dengan aktif di beberapa kegiatan bakti sosial.
“Jadilah kita kuat agar bisa membela yang lemah, jadilah kita kaya agar bisa mencari ilmu dan amal, jadilah berilmu agar kita menjadi pencerah,” ungkap pria kelahiran 6 April 1985 ini.

Peraih penghargaan finalis Ernst and Young Entrepreneur Award 2010 juga menjelaskan,
“Seorang Pengusaha bukanlah seseorang yang mampu mencetak keuntungan semata, akan tetapi seseorang pengusaha harus mampu mencetak manusia yang bersama dengannya dan seluas-luasnya memberikan manfaat.”

President Director PT. Baba Rafi Indonesia, Hendy Setiono seorang pengusaha muda yang sukses dengan usaha kebabnya mengajak semua peserta untuk berwirausaha. Jadilah pengusaha dan jangan jadi pekerja. Ia juga mengingatkan, di dalam berwirausaha jangan takut mengalami kegagalan, kegagalan itu bagian dari dinamika berbisnis.

Perjuangannya dalam berbisnis dimulai ketika ia berusaha berjualan kebab dengan memakai gerobak dorong. Tekad yang tak pernah pudar dan berupaya selalu menjadi yang terbaik menjadikannya sukses dibidangnya. Peraih penghargaan Ernst and Young Entrepreneur Of The Year 2009 ini mengatakan, “Semua proses, tidak ada sukses yang instan. Dalam menjalankan bisnis apa pun kuncinya adalah harus terus melakukan inovasi.”

Hendy menambahkan, kunci suksesnya adalah PISS (positif thinking, ikhtiar, sedekah, dan sukses).
Positif thinking harus berpikir positif dan yakin kalau kita pasti bisa. Ikhtiar harus berusaha sungguh-sungguh dan pantang menyerah. Sedekah, perbanyak bersedekah membantu orang lain, karena dengan begitu akan membantu kita di dalam berbisnis. Sukses terhadap diri sendiri dan sukses terhadap bisnis yang dijalankan.

dr. Abbi Angkasa yang juga sebagai pengusaha dan juga berperan sebagai moderator di Seminar Nasional Kewirausahaan ini juga mengajak semua peserta untuk menjadi pengusaha. Abbi sudah belajar menekuni berwirausaha sejak ia masih kuliah. Meskipun sudah lulus kuliah dan kini menjadi seorang dokter, tapi ia tetap konsisten meneruskan usahanya.

Abbi Angkasa yang juga Ketua Panitia Golden Generation ini mengatakan, saatnya kita membuka lapangan pekerjaan, jadi bukan kita yang mencari kerja.
Kenapa? Karena kita adalah manusia 1% Indonesia yang harus berguna untuk 99%.
Bukan saatnya kita bekerja lagi kepada orang.
“Kita banyak yang mengenyam kuliah, banyak juga yang alumni ESQ. Artinya ESQ mengajarkan kita untuk banyak berbagi.

Jadi inti dari spiritual enterpreneurship adalah seorang pengusaha itu tidak mencari kekayaan untuk dirinya tapi mencari manfaat orang banyak,” paparnya.

Terjadi diskusi yang melibatkan pertanyaan dari peserta dan jawaban dari narasumber untuk mencari solusi bagaimana berbisnis dengan baik dan sukses. Diharapkan nantinya akan lahir pengusaha-pengusaha muda yang terus tumbuh, sehingga Indonesia dapat lebih maju.

Trainer ESQ, Ridwan Mukri juga mendukung kepada peserta yang kebanyakan adalah SHOT 165, FOSMA 165, dan GEMA 165 untuk menjadi pengusaha yang berorientasi kepada spiritual hapiness (kebahagiaan spiritual). Ridwan menjelaskan 3 konsep kebahagiaan di dalam kehidupan, di antaranya; physical happiness (kebahagiaan fisik), emotional happiness (kebahagiaan emosi), dan spiritual happiness.

Ridwan mengajak kepada peserta ketika nanti menjadi pengusaha yang diutamakan adalah spiritual happiness, bukan physical happiness dan emotional happiness. Kalau hanya mencari kebahagiaan fisik, maka yang dicari hanyalah uang, harta, dan tahta. Tapi ini tak akan berlangsung lama. Contohnya ketika ingin memiliki omset yang mencapai 1 Milyar dan ketika sudah tercapai masih tidak merasa puas, karena akan selalu menginginkan keutungan yang lebih besar.

Oleh karena itu tidak akan merasa cukup jika hanya berorientasi kepada physical hapiness. Tapi kalau hanya mencari kebahagiaan emosi, maka yang dicari hanyalah mengharapkan penghargaan dan pengakuan. Ini juga tidak bisa dijadikan prioritas utama. Tapi ada satu kebahagiaan yang akan membekas di hati manusia, yaitu spiritual happiness.

Spiritual happiness merupakan kebahagiaan hidup bukan dengan meminta, tetapi memberi terhadap sesama, sehingga mampu memaknai pekerjaan dan tujuan. Kebahagiaan yang didapat dengan mendapatkan uang dan penghargaan, tapi kebahagiaan yang berasal dari dalam jiwa. Bahagia bisa membuat lapangan pekerjaan, karena dapat membantu orang-orang untuk bekerja, dengan begitu keluarganya juga akan terbantu.
“Bahagia ketika menolong orang. Ketika mempekerjakan karyawan dan menggaji karyawan, maka karyawan itu akan menafkahi keluarganya,” urainya.

Ridwan mengajak kalau kita nanti menjadi pengusaha janganlah menjadi pengusaha yang materialistis yang hanya memikirkan keuntungan semata, bukan juga hanya memikirkan pengakuan dan penghargaan. Tapi seorang pengusaha yang ingin mengabdi kepada Allah SWT agar bisa menolong hamba-hamba-Nya.

Ridwan berharap, semoga pertemuan ini menjadi komitmen untuk bersatu membangun Indonesia menjadi Indonesia Emas melalui para pemudanya.
“Kita harus mempunyai impian Indonesia yang maju. Sama seperti impiannya Elang, Hendy, dan Abbi yang memiliki impian dan menjadi kenyataan.
Harus mempunyai keyakinan untuk mewujudkan impian untuk menjadi pengusaha. Jangan takut punya mimpi, jangan takut punya cita-cita, jangan takut untuk mengambil langkah sekarang juga dan wujudkan impian itu,” himbaunya. (tino)

Sabtu, 01 Mei 2010

CINTA YANG TAKKAN MAMPU DI BAYAR


Lutfia, bukan siapa-siapa. Tapi ia menjadi seseorang yang akan disebut namanya di Surga kelak oleh Yusuf, anak tercintanya. Dan ia akan menjadi satu-satunya yang direkomendasikan Yusuf, seandainya Allah memperkenankannya menyebut satu nama yang akan diajaknya tinggal di Surga, meski Lutfia sendiri nampaknya takkan membutuhkan bantuan anaknya, karena boleh jadi kunci surga kini telah digenggamnya.

Bagaimana tidak, selama dua hari Lutfia menggendong anaknya yang berusia belasan tahun mengelilingi Kota Makassar untuk mencari bantuan, sumbangan dan belas kasihan dari warga kota, mengumpulkan keping kebaikan dan mengais kedermawanan orang-orang yang dijumpainya, sekadar mendapatkan sejumlah uang untuk biaya operasi anaknya yang menderita cacat fisik dan psikis sejak lahir.

Tubuh Yusuf, anak tercintanya yang seberat lebih dari 40 kg tak membuat lelah kaki Lutfia, juga tak menghentikan langkahnya untuk terus menyusuri kota. Tangannya terlihat gemetar setiap menerima sumbangan dari orang-orang yang ditemuinya di jalan, sambil sesekali membetulkan posisi gendongan anaknya. Sementara Yusuf yang cacat, takkan pernah mengerti kenapa ibunya membawanya pergi berjalan kaki menempuh ribuan kilometer, menantang sengatan terik matahari, sekaligus ratusan kali menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang kering sekering air matanya yang tak lagi sanggup menetes.

Ribuan kilo sudah disusuri, jutaan orang sudah dijumpai, tak terbilang kalimat pinta yang terucap seraya menahan malu. Sungguh, sebuah perjuangan yang takkan pernah bisa dilakukan oleh siapa pun di muka bumi ini kecuali seorang makhluk Tuhan bernama; Ibu. Ia tak sekadar menampuk beban seberat 40 kg, tak henti mengukur jalan sepanjang kota hingga batas tak bertepi, tetapi ia juga harus menyingkirkan rasa malunya dicap sebagai peminta-minta, sebuah predikat yang takkan pernah mau disandang siapapun. Tetapi semua dilakukannya demi cintanya kepada si buah hati, untuk melihat kesembuhan anak tercinta, tak peduli seberapa besar yang didapat.

Tidak, ia tak pernah berharap apa pun jika kelak anaknya sembuh. Ia tak pernah meminta anaknya membayar setiap tetes peluhnya yang berjatuhan di setiap jengkal tanah dan aspal yang dilaluinya, semua letih yang menderanya sepanjang jalan menyusuri kota. Ibu takkan memaksa anaknya mengobati luka di kakinya, tak mungkin juga si anak mengganti dengan seberapa pun uang yang ditawarkan untuk setiap hembusan nafasnya yang tak henti tersengal.

Lutfia, adalah contoh ibu yang boleh jadi semua malaikat di langit akan mengagungkan namanya, yang menjadi alasan tak terbantahkan ketika Rasulullah menyebut "ibu" sebagai orang yang menjadi urutan pertama hingga ketiga untuk dilayani, dihormati, dan tempat berbakti setiap anak. Lutfia, barangkali telah menggenggam satu kunci surga lantaran cinta dan pengorbanannya demi Yusuf, anak tercintanya. Bahkan mungkin senyum Allah dan para penghuni langit senantiasa mengiringi setiap hasta yang mampu dicapai ibu yang mengagumkan itu.

Sungguh, cintanya takkan pernah terbalas oleh siapapun, dengan apapun, dan kapanpun. Siapakah yang lebih memiliki cinta semacam itu selain ibu? Wallaahu 'alam