CHOOSE LANGUAGE:


English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bismillah

Tampilkan postingan dengan label WANITA ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WANITA ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Juni 2014

MELLY GOESLAW MULAI BERHIJAB

Musisi Meliana Cessy Goeslaw atau Melly Goeslaw dikenal sebagai penyanyi yang kerap menggunakan busana nyentrik saat di panggung. Namun, kini image itu telah berubah, bahkan belakangan kerap mengenakan jenis busana muslim dan berjilbab.

Perubahan penampilannya itu terjadi setelah menunaikan ibadah umrah bersama suaminya, Anto Hoed dan rekan-rekannya, seperti Rina Gunawan dan Camelia Malik.
"Tadinya pengen 40 hari setelah pulang umroh ada sih keinginan untuk pake jilbab terus. Tetapi belum berani mendeklarasikan takutnya nggak jadi. Jalanin saja besok apa yang terjadi kita lihat saja nanti," ungkapnya saat ditemui usai mengisi acara di Grand Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta Pusat, Selasa (10/6).

Niatan Melly mengenakan hijab pun mendapat dukungan penuh dari keluarga. Terutama, anak bungsunya yang selalu mengingatkan untuk berhijab secara sempurna.
"Alhamdulilah adem karena sudah niat. Anak-anak juga support tadinya aku pikir mereka nggak akan suka karena anak-anak saya modern. Suami support, anak saya yang pertama support, malah anak saya yang paling kecil ada kelihatan rambut sedikit dia komplain. Jadi nggak nyangka banget memang sudah jalannya Alloh," terangnya.

Perubahan penampilan sekarang, diakui Melly, juga mempengaruhi karya-karyanya. Melly yang dikenal sebagai pencipta lagu dengan beat tinggi, percaya perubahan penampilannya tidak akan mengubah rezekinya di industri musik.

Banyak contoh hijab yang kini sedang dipelajari Melly. Salah satunya, dia kagum dengan pakaian hijab yang dikenakan sahabatnya, Umi Pipik. Istri mendiang Ustadz Jeffry Al Buchori itu, dinilainya memiliki koleksi busana hijab yang sederhana.

"Sebenarnya aku suka cara hijabnya Umi Pipik (Pipik Dian Irawati) yang biasa saja. Tetapi untuk aku kan kalau tampil di panggung cocokin lagu, atau tema acaranya aku juga belum dapatin format seperti nanti mungkin lama-lama akan dapat juga," paparnya.[kapanlagi/mh]

http://www.islamedia.co/2014/06/alhamdulillah-penyanyi-melly-goeslaw.html

Kamis, 21 November 2013

POLWAN BOLEH BERJILBAB, "ALHAMDULILLAH" UCAP POLWAN POLRESTA BOGOR INI

Para polisi wanita beragama Islam, bersyukur diizinkan mengenakan jilbab. Salah satunya anggota Kepolisian Resor Kota Bogor, AKP Yuni Astuti.

Yuni menyambut baik pernyataan Kapolri Jenderal Pol Sutarman yang mengizinkan polwan menutup auratnya. "Alhamdulillah, saya bersyukur atas hal itu," kata Kasubag Sarana Prasarana itu.

Ia memutuskan berjilbab sepulangnya menunaikan ibadah haji beberapa waktu lalu. Jilbab yang dikenakannya pun merupakan jilbab yang digunakan Polwan yang bertugas di Daerah Istimewa Aceh. Jilbab itu berwarna cokelat tua dengan lambang polwan Esthi Bhakti Warapsari.

Yuni mengaku mendapatkan jilbab itu dari rekan sesama polwan. "Saya diberi dua jilbab polwan Aceh ini oleh seorang rekan sesama polwan. Dia memesan langsung dari Aceh," ujar AKP Yuni.

Minggu, 30 Desember 2012

DELISA TAK PERNAH PATAH SEMANGAT


"Mak, kaki adik mana? Kaki adik mana?" ratap Delisa Fitri Rahmadani, setiap tengah malam. Rintihan Delisa yang dirawat di Rumah Sakit (RS) Kesdam Banda Aceh itu begitu menyayat batin ayahnya, Bachtiar (55) yang setia menunggui putri tercinta. "Hampir setiap malam dia menangis seperti itu," ujar Bachtiar.
Itulah ratapan asli Delisa yang sebenarnya ketika tersadar di rumah sakit 8 tahun yang lalu (2004).

Mungkin kita masih ingat nama itu .... Delisa. Banyak orang mengira bahwa sosok gadis cilik ini hanyalah rekaan Tere Liye sang penulis novel. Ya, apalagi setelah novel "Hafalan Shalat Delisa" diangkat ke layar lebar pada tahun 2011 oleh produser Chand Parwez Servia dan sutradara Sony Gaokasak. Kisahnya tentang Delisa, gadis cilik yang tinggal di Desa Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar.

Dalam film tersebut Delisa digambarkan sebagai bungsu dari empat bersaudara yang periang dan manja. Saat tsunami terjadi semua keluarganya meninggal; ibu, dan ketiga kakaknya. Kecuali ayahnya yang saat itu bekerja di kapal tanker perusahaan minyak internasional.

Tsunami (atau dalam bahasa Simeulue disebut smong) juga merenggut sebelah kaki Delisa sehingga harus diamputasi. Setelah itu ia terpaksa menggunakan tongkat untuk berjalan. Tak lama setelah tsunami ayahnya pulang. Delisa kemudian menjalani hari-harinya dengan sang ayah. Delisa sempat frustasi menyadari kehilangan ini. Ia sedih. Namun akhirnya dengan dukungan ayah dan teman-temannya ia bangkit, menginsyafi  bahwa semua peristiwa adalah kehendak Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Dahsyatnya, Delisa kemudian kembali bersemangat untuk menuntaskan hafalan shalatnya yang belum sempurna.

Tapi namanya film tentu tidak sama persis dengan aslinya. Yang pasti Delisa benar-benar korban gelombang ganas tsunami 26 Desember 2004. Kisahnya nyaris
sangat mirip dengan Delisa-nya Darwis Tere Liye. Bedanya Delisa yang asli ini bukan penduduk Lhok Nga. Delisa yang ini bernama lengkap Delisa Fitri Rahmadani. Ia biasa dipanggil Delisa. Kakinya telah diamputasi karena diterjang tsunami. Gadis yang memakai baju putih dan rok berwarna coklat tersebut lahir di Ulee Lheue Banda Aceh, 15 Desember 1997 silam.

Di acara refleksi delapan tahun tsunami Aceh yang digelar Forum Lintas Komunitas di Museum Tsunami Aceh kemarin siang (26/12), Delisa menjadi pusat perhatian. Banyak yang meminta tanda tangan padanya, ada juga yang minta foto bersama. Sebelumnya Delisa tampil di hadapan seluruh pengunjung untuk berbagi kisahnya hingga selamat saat tsunami.

Dengan bantuan tongkat gadis itu berdiri di tengah panggung. Kedua bola matanya terlihat berair. Dari mulutnya cerita demi cerita tentang peristiwa tsunami delapan tahun silam mengalir. Sesekali ia terlihat berhenti bercerita. Kadang suaranya terdengar terputus-putus, terutama saat menyebut ibunya.

Saat itu katanya ia masih berusia 8 tahun lebih 15 hari. Ia masih duduk di kelas 2 MIN Ulee Lheue Banda Aceh. Saat musibah tersebut ia kehilangan ibunya Salamah, dan juga ketiga saudara kandungnya. Ia juga kehilangan anggota tubuhnya, yaitu kaki sebelah kanannya yang harus diamputasi.

“Waktu itu kaki saya sudah membusuk. Telapak kaki sudah terkikis dan nampak tulangnya. Selama tiga hari setelah tsunami kaki saya hanya diberi betadine saja. Perihpun sangat luar biasa, melihat kondisi saya yang seperti itu, salah satu relawan mengatakan bahwa ada dokter dari Australia di Rumah Sakit Fakinah. Relawan itu juga bilang kamu harus terima apapun nanti hasilnya, saya pun siap dioperasi pada hari kelima,” ujarnya di atas panggung.

Kini Delisa menjalani hari-harinya dengan bantuan tongkat dan kaki palsu. Ia tinggal bersama ayahnya Bakhtiar, dan seorang abangnya yang selamat. Ia kini sekolah di SMK 5 Telkom Banda Aceh dan masih kelas satu. Delisa adalah remaja yang penuh semangat dan energik, saat masih SMP ia juga pernah mendapat juara umum. Gadis itu juga pandai memainkan alat musik keyboard.


“Saya berterima kasih kepada Alloh yang telah mengambil kaki saya, di luar sana banyak Delisa-Delisa lain yang mungkin lebih dari saya,” ujarnya.

Kelak Delisa ingin menjadi pemain musik dan pengarang buku. Ia juga ingin membuat komunitas untuk anak-anak cacat. 

Subhanallah. Dua
jempol untuk semangat bangkit Delisa dan kawan-kawan!
Do'a kami untuk kalian......

Minggu, 02 Mei 2010

UMMU HARAM

Dia adalah putri Milhan bin Khalid bin Zaid, saudara perempuan Ummu Sulaim, bibi Anas bin Malik, dan istri Ubadah bin Ash-Shamit.

Dia termasuk wanita yang berkedudukan tinggi.

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Rasulullah SAW pernah mengunjungi kami saat tidak ada seorang pun kecuali aku, ibuku dan bibiku, Ummu Haram. Beliau bersabda, ‘Berdirilah, aku ingin shalat bersama kalian’. Beliau pun shalat bersama kami di luar waktu shalat.”

Diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Ummu Haram binti Milhan menceritakan kepadaku, bahwa suatu hari Rasulullah SAW tidur siang di rumahnya, lalu beliau bangun lantas tertawa. Aku kemudian bertanya, ‘Ya Rasulullah, apa yang membuatmu tertawa?’ Beliau menjawab, ‘Telah diperlihatkan kepadaku segolongan umatku berjalan di permukaan laut seperti raja-raja di atas ranjang!’ Aku berkata lagi, ‘Ya Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar aku termasuk salah satu di antara mereka!’ Beliau lalu bersabda, ‘Engkau termasuk orang-orang yang pertarna’.

Setelah itu dia dinikahi oleh Ubadah bin Ash-Shamit, lalu dia mengajak Ummu Haram ikut berperang dengan naik perahu dan Ubadah mengajaknya. Ketika mereka kembali, dia ditawari seekor baghal. Dia pun menaikinya lalu berusaha mengendalikannya hingga terjatuh yang mengakibatkan lehernya patah, lalu akhirya meninggal.”

Menurut aku, ada yang mengatakan bahwa perang itu dikenal dengan perang Cyprus, yang terjadi pada masa Khalifah Utsman. Menurut informasi yang sampai kepadaku, makam Ummu Haram sering dikunjungi oleh orang-orang Eropa.

Cyprus yaitu jazirah yang sekarang dikenal dengan nama Cyprus (di Eropa). Dulu pemimpin pasukan itu adalah Mu’awiyah bin Abu Sofyan bersama Abu Ad-Darda’ dan sahabat lainnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 27 Hijriyah.


Sumber : Kitab Siyar A’lam An-Nubala’ - Imam Adz-Dzahabi
Diringkas: Dr. Muhammad bin Hasan bin Aqil Musa

http://azishtm.blogspot.com