CHOOSE LANGUAGE:


English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bismillah

Minggu, 05 Oktober 2014

USTADZ JEFRY DALAM KENANGAN

Ustadz Jeffry Al Buchory (alm) atau yang biasa disapa Uje, siapa yang tidak mengenal beliau. Ketika beliau berpulang, lautan manusia mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Dan sampai saat itu, masih banyak yang belum percaya jika mereka sedang mengantarkan seorang Uje ... Sahabat, kakak, saudara yang sangat mereka cintai.

Banyak kisah tentang bagaimana seorang Uje dalam kehidupannya. Kisah dibawah ini mungkin hanya beberapa kisah yang akan menjadi kenangan mereka sepanjang hayat dan tidak akan terlupakan. Insya Alloh ikatan keluarga bersama beliau akan berlanjut hingga akhirat kelak ... Aamiin ya Rabb ...

Misalnya saja, suatu kali Uje sedang makan siang di sebuah warung makan pinggiran jalan. Namanya juga tempat makan dekat pinggir jalan, seorang waria masuk dan langsung mengamen.
“Idih, endang, endang, ada Uje di sindang bow,” ujar si waria itu yang mengenali Uje.
“Ayo, sini masuk, duduk di sini,” ujar Uje.

Waria itu kaget dan kebingungan.
Uje berujar lagi, “Ayo masuk, duduk di sini sama saya. Kamu belon makan siang kan? Ayo duduk, makan sama saya.”
Si waria mendadak jadi jaim. Rumpinya langsung hilang. “Maaf Uje, saya tadi udah makan.”
“Udah deh … sama ustadz jangan coba-coba boong. Itu dosa namanya,” samber Uje dengan cepat dengan khas bercanda anak gaulnya.

Akhirnya waria itu duduk satu meja dan makan bareng Uje. “Iya iya, Uje.”
Setelah makan siang, waria itu bertanya sambil terharu. “Uje, saya mau tanya kenapa Uje nggak malu ajak saya makan bareng?”

Uje tesenyum, kemudian menjawab, “Kenapa saya mesti malu? Kamu kan sama dengan saya, sama-sama mahluk ciptaan Alloh SWT. Saya wajib menghargai kamu apa adanya.”
Si waria diam dan makin terharu. Dia merasa jika selama ini hanya dipandang hina oleh orang lain. Besoknya si waria muncul di masjid. Tidak memakai make up dan rok. Tapi mengenakan kopiah, baju koko, dan sarung.

Kisah lainnya ...
Seorang sahabat sebelum mendapatkan pekerjaan tetap mengamen bersama adik iparnya di kawasan Bintaro. Hingga suatu hari menjumpai Uje sedang makan di sebuah warung nasi pinggir jalan. Seperti biasanya dengan canda yang khas mereka terlibat sedikit percakapan dengan beliau. Yang sangat mereka ingat adalah pesan terakhir Uje sambil memberikan uang Rp 10.000,-
"Hari ini kita ketemu disini, kapan-kapan gue pengen kita ketemu di majelis ilmu"

Sahabat admin selalu terharu dan merinding jika teringat kata-kata itu. Dalam hati mereka berkata "Insya Alloh kita akan berkumpul hingga akhirat nanti"
(Ahad dinihari disela takbir dalam dekap kerinduan dengan para sahabat di Bumi Alloh SWT)

Senin, 18 Agustus 2014

I LOVE BOGOR

Mau cerita tentang sebuah kota yang terletak di pinggiran ibu kota DKI Jakarta. Cerita ini versi admin lhoh, jadi yang admin alami dan rasakan tentunya ada kemungkinan berbeda dengan pembaca blog ini. Kota kecil nan indah itu bernama BOGOR.

Sebelum cerita Bogor, admin ingin jauh kebelakang terlebih dahulu. Ketika admin masih SMP dan SMA dulu (sekarang SMU), saya sangat mengagumi masyarakat Jawa Barat dan Bandung khususnya. Jawa Barat dipenuhi keindahan alam, kreatifitas tinggi, berbagai seni budaya dan keramahan penduduknya yang penuh kekeluargaan. Tak heran jika Jawa Barat terutama Bandung dan sekitarnya dijadikan tempat untuk berlibur dan menenangkan pikiran sebagian warga setelah sehari-harinya beraktifitas di kota lain.

Saya sendiri melihat kreatifitas warga Jawa Barat, luar biasa. Wajar jika Bandung sebagai ibu kota Jawa Barat kemudian dijuluki PARIS VAN JAVA. Bukan rahasia lagi jika Bandung dijadikan acuan utama untuk masalah pakaian. Dari sepatu Cibaduyut nya yang mendunia sampai kaos, celana atau jaket nya yang selalu up to date, selalu ada yang terbaru dari Bandung untuk ditiru.
Bidang seni??? Jangan ditanya, dari yang tradisional sampai yang modern, entah sudah berapa nama besar seniman Indonesia muncul dari Jawa Barat terutama Bandung.

Bagaimana dengan BOGOR ???
Saya mulai menikmati Bogor sejak tahun 1990-an, berawal dari kenal salah satu sahabat yang asli Bogor. saya sering berkunjung ke Bogor, melihat sendiri bagaimana indahnya Bogor. Dulu saya ke Bogor selalu naik kereta KRL dari stasiun Gambir, karena kebetulan saya waktu itu tinggal di Gambir.

Di Kota Bogor saya betul-betul merasakan kedamaian. Alamnya yang indah, warga yang ramah dan ... ... ... Kehidupan beragama yang sangat Islami ... ... ...
Semakin lama mengenal Bogor, semakin banyak yang saya suka. Hingga suatu ketika saya berdoa di sebuah Masjid di Bogor. "Ya Alloh, Semoga ada takdir untuk ku buat punya rumah di Bogor. Semoga mama kuat beli rumah di Bogor ...". Dan Alhamdulillah sejak tahun 2011 adik saya membeli rumah di Bogor sehingga kami sekeluarga akhirnya memiliki rumah di Bogor seperti yang saya harapkan dulu.

Sampai sekarang banyak kejadian yang menyentuh di Bogor, misalnya tentang 2 harokah Islam. Di Jakarta mereka terlibat "Perang Dingin" terasa bersaing saling menjatuhkan. Tapi di Bogor??? Mereka duduk bersama, bergerak bersama. Saya melihat beberapa kali mereka saling bekerja sama. Misalnya ada Munasharah Palestina di Jakarta. Mereka kadang berangkat bersama, carter bis bersama, sama sekali tidak ada sekat "Beda Harokah".

Di tempat admin sendiri sangat luar biasa walaupun disini sebagian besarnya bukan asli Bogor, dari berbagai suku dan agama. Tapi Majelis Ilmu dan Majelis Dzikir tumbuh subur. Di sini, peringatan tahun baru Islam 1 Muharrram tidak cuma 1-2 hari, tapi sebulan full. Tempat-tempat umum dipenuhi suasana ke-Islaman selama sebulan, kalau masjid sih jangan ditanya lagi. SMP negeri dekat rumah, siswinya 95% berjilbab (mungkin sebagian kecilnya non Muslim). Dan luar biasanya ini SETIAP HARI, bukan hanya hari Jum'at saja. Apalagi sebuah sekolah Islam yang memang dekat dari rumah juga.

Antar harokah juga sangat terasa ukhuwah-nya. Saya pernah ngobrol dengan seorang sahabat yang aktif juga di MK, dia adalah instruktur Senam Nusantara yang rutin diadakan setiap Ahad pagi dekat rumah. Dia bilang, "Senam kita bukan cuma kita aja, ada dari lainnya. instrukturnya aja salah satunya orang Majelis Mujahidin" ... MANTAP ^_^ . Disini juga banyak habaib bertempat tinggal, bahkan pas waktu baru beberapa hari disini, ada Tabligh dan Dzikir bersama Majelis Rasulullah dan alm. Habaib Munzir di lapangan Citra Indah.

Saya sendiri sering bertemu dengan rombongan akhwat ber-niqab, bahkan beberapa kali melihat berboncengan atau mengobrol dengan Muslimah yang hanya berjilbab biasa ... Ukhuwah yang sangat indah.

Tentang kepedulian sesama saudara Muslim??? Entah sudah berapa kali para jamaah memanjatkan do'a buat saudara-saudara kita di Palestina misalnya. Bahkan tabligh akbar pun di isi dengan pengumpulan dana untuk dikirimkan kepada saudara kita di Palestina.

Hhmmm ... ... ... Terlalu panjang jika harus ditulis tentang indahnya Bogor ... ... ...

Minggu, 17 Agustus 2014

SEBUAH CATATAN KECIL DARI GAZA

Banyak yang menuduh para pemimpin Hamas hanya foya-foya dan bersenang-senang sementara prajuritnya berperang. Begitulah keadaannya, ketika kita mengikrarkan diri membela agama Alloh SWT, maka beragam hina dan fitnah akan diarahkan kepada kita.

Suatu ketika seluruh pasukan Brigade Izzudin Al-Qassam sayap militer Hamas dikumpulkan didalam terowongan. Mereka diminta membuka penutup wajah masing-masing (mereka memang selalu memakai penutup wajah ketika berhadapan dengan umum. Ini sesuai instruksi Syaikh Ahmad Yasin agar mereka terhindar dari penyakit riya').


Ketika diminta membuka penutup wajah itu, ada salah satu orang yang terus menolak melakukannya. Sehingga semua pasukan memaksanya untuk membuka penutup wajahnya, akhirnya dia terpaksa membukanya. Setelah penutup wajah terbuka dan terlihat jelas wajahnya, menangislah seluruh pasukan. 


Ternyata, orang itu adalah Perdana Menteri mereka sendiri, Ismail Haniya. Ya, perdana menteri Palestina sekaligus petinggi HAMAS itu meninggalkan jabatannya untuk bertempur bersama pasukan dan rakyatnya, tanpa ada yang mengetahuinya.
Subhanallah. Allahu Akbar !