CHOOSE LANGUAGE:


English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Bismillah

Tampilkan postingan dengan label PEMILU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PEMILU. Tampilkan semua postingan

Minggu, 29 Juni 2014

KERUSUHAN MEI 98, PRABOWO BERTANGGUNG JAWAB ?

Beredar Wawancara Prabowo di Bangkok: "Tanggung Jawab Saya Ambil Alih"

Beredar dokumen yang berisi wawancara capres nomor urut 1 Prabowo Subianto di Bangkok, Thailand, dengan empat wartawan dari Indonesia. Dokumen itu berasal dari perpustakaan online Universitas Ohio, Amerika Serikat. Dokumen itu diunggah pada tanggal 29 Oktober 1999.

Dalam dokumen itu disebutkan empat wartawan Indonesia, salah satunya dari majalah Panji. Mereka berbincang-bincang dengan Prabowo pada Kamis 14 Oktober 1999 atau setahun setelah diberhentikan dari Pangkostrad ABRI.

Berikut obrolan Prabowo dengan empat wartawan di Indonesia:
Soal surat Muladi kepada Komnas HAM. Anda sebenarnya diberhentikan karena kasus penculikan atau kerusuhan 13-14 Mei 1998?
Itulah yang saya bingung. Saya diperiksa oleh DKP beberapa kali. Mungkin tiga atau empat kali. Dan semua pertanyaan saya jawab. DKP itu kan khusus menyelidiki soal penculikan sembilan aktivis. Saya pribadi tidak suka menggunakan istilah penculikan karena itu kan kesalahan teknis di lapangan. Niat sebenarnya adalah mengamankan aktivis radikal agar tidak mengganggu rencana pelaksanaan SU MPR 1998. Bahwa kemudian anak buah saya menyekap lebih lama sehingga dikatakan menculik, itu saya anggap kesalahan teknis. Tanggung jawabnya saya ambil alih.

Di DKP apakah ditanyai soal pemberi perintah penculikan?
Tentu. Tapi perintah menculik tidak ada. Yang ada operasi intelijen untuk mengamankan aktivis radikal itu. Sebab saat itu kan sudah terjadi ancaman peledakan bom di mana-mana. Dalam DKP saya kemukakan bahwa perintah pengamanan itu tidak rahasia. Mereka, para jenderal yang memeriksa saya pun tahu. Itu dari atasan dan sejumlah instansi, termasuk Kodam dilibatkan.

Benarkah Anda mendapat daftar 28 orang yang harus `diamankan' dalam konteks SU MPR?
Wah, dari mana Anda tahu? Tapi saya memang terima satu daftar untuk diselidiki. Jadi, untuk diselidiki. Bukan untuk diculik.

Dari siapa Anda terima daftar itu?
Saya tidak bisa katakan. Semua sudah saya katakan di DKP. Kita ini kan harus menjaga kehormatan institusi ABRI. Keterangan saya di DKP ada rekamannya.
 
Benarkah daftar itu Anda terima langsung dari RI 1, yakni presiden
saat itu, Soeharto?
Saya sulit menjawab. Kepada Pak Harto saya sangat hormat. Beliau panglima saya. Kepala negara saya. Bahkan, lebih jauh lagi, beliau mertua saya, kakek dari anak saya. Bayangkan sulitnya posisi saya.
Tapi semua itu sudah saya sampaikan ke DKP.

Anda tidak tanya pada Pak Harto daftar itu didapat dari mana?
Tentu saya tanya.

Pak Harto ngomong apa pada Anda waktu memberikan daftar itu?
Ha...ha...ha.... Pertanyaan bagus, tetapi sulit dijawab.

Kapan Anda terima daftar itu dari Pak Harto?
Beberapa hari setelah ledakan bom di rumah susun Tanah Tinggi.

Apakah nama 14 aktivis yang sampai kini belum ketahuan rimbanya ada di situ?
Saya lupa. Mungkin tidak. Itu daftar kan kalau saya tidak salah didapat dari rumah susun Tanah Tinggi. Jadi macam-macam nama orang ada di situ. Akan halnya enam aktivis, Andi Arief dkk., itu ada dalam daftar pencarian orang (DPO), yang diberikan polisi. Yang tiga, Pius Lustrilanang, Desmond J. Mahesa, dan Haryanto Taslam, itu kecelakaan.
Saya tak pernah perintahkan untuk menangkap mereka. Semua mencari mereka yang ada dalam DPO itu. Kita dapat brifing terus dari Mabes ABRI. Kita selalu ditanyai. Sudah dapat belum Andi Arief. Tiap hari ditanya. Sudah dapat belum si ini... begitu. Kejar-kejaran semua.
Itu pun, maaf ya, meski saya tanggung jawab, saya tanya anak-anak. Eh, kalian saya perintahkan nggak? BKO sampai nyebrang ke Lampung segala.
Mereka ini namanya mau mencari prestasi. Tapi saya puji waktu mereka dapat. Mereka kan membantu polisi yang terus mencari-cari anak-anak itu. Soalnya Andi Arief kan dikejar-kejar

Selain Anda, siapa lagi yang menerima daftar itu dari Pak Harto? Apakah betul Kasad Jenderal Wiranto dan pangab saat itu, Jenderal Feisal Tanjung menerima daftar serupa?
Yang bisa saya pastikan, saya bukan satu-satunya panglima yang menerima daftar itu. Pimpinan ABRI lainnya juga menerima. Dan daftar itu memang sifatnya untuk diselidiki. Perintahnya begitu. Seingat saya, Pak Harto sendiri sudah mengakui kepada sejumlah menteri bahwa itu adalah operasi intelijen. Di kalangan ABRI, sudah jadi pengetahuan umum. Tapi, sudahlah, kalau bicara Pak Harto saya sulit.
Apalagi saya tak mau memecah-belah lembaga yang saya cintai, yakni ABRI, khususnya TNI.

Bukankah hubungan Anda dan Pak Harto belakangan retak?
Itu benar dan sangat saya sesalkan. Mungkin ada yang memberikan masukan kepada Pak Harto, seolah-olah saya sudah tidak loyal kepada beliau. Saya dikatakan sudah main mata dengan Pak Habibie dan karena itu menyarakan agar Pak Harto lengser pada pertengahan Mei. Mungkin itu yang membuat Pak Harto marah kepada saya. Ironis, bukan? Oleh masyarakat saya dianggap sebagai status quo karena menjadi bagian dari Pak Harto. Saya tidak menyesal. Memang saya menikah dengan putrinya.
Tapi Pak Harto sendiri, dan keluarganya, justru marah kepada saya.
 
Benarkah Anda mengusulkan agar Pak Harto lengser?
Ya. Malah sebelum Pak Harto mundur, setelah terjadi peristiwa Trisakti, saya pernah mengatakan kepada seorang diplomat asing. Tampaknya Pak Harto akan mundur. Eskalasi situasi dan peta geopolitik saat itu menghendaki demikian. Saya juga kemukakan ini sehari setelah Pak Harto kembali dari Kairo (15 Mei 1998, Red.). Apalagi Pak Harto di Kairo memang mengisyaratkan kesediaan untuk lengser. Mungkin ada yang tidak suka saya bicara terbuka. Tapi saya biasa bicara apa adanya dan terus terang. Saya tidak suka basa-basi. Mungkin di situ masalahnya.
 
Kenapa akhirnya Anda mengambil tanggung jawab penculikan sembilan aktivis?
Di situ saya merasa agak dicurangi dan diperlakukan tidak adil. Mengamankan enam orang ini kan suatu keberhasilan. Wong orang mau melakukan aksi pengeboman, kita mencegahnya. Mereka merakit 40 bom.
Kita mendapatkan 18, ada 22 bom yang masih beredar di masyarakat.
Katanya yang 22 itu sudah dibawa ke Banyuwangi. Bom yang meledak di rusun Tanah Tinggi dan di Demak, Jawa Tengah itu kan karena anak-anak itu, para aktivis, nggak begitu ahli merakit bom. Jadi, kurang hati-hati, salah sentuh, meledak. Di Kopassus pun tidak sembarang orang bisa merakit bom. Tidak semua orang bisa. Ini ada spesialisasinya. Saya tidak bisa bikin bom. Jadi kita ini mencegah peledakan bom di tempat-tempat strategis dan pembakaran terminal. Kita harusnya dapat ucapan terima kasih karena melindungi hak asasi masyarakat yang terancam peledakan itu. Soal tiga orang, memang kesalahan. Saya minta maaf pada Haryanto Taslam dan yang lain. Tapi dia juga akhirnya terima kasih. Untung yang menangkap saya. Kan hidup semua. Saya mau bertemu mereka.
 
Anda pernah berpikir tidak bahwa dokumen atau daftar yang berasal dari rusun Tanah Tinggi itu buatan pihak yang berniat jahat?
Belakangan saya berpikir juga. Jangan-jangan dokumen itu bikinan.
Dalam dokumen itu, seolah-olah ada rapat di rumah Megawati. Saya nggak bisa dan tidak mau menyalahkan anak buah. Saya katakan kepada mereka, you di pengadilan mau ngomong apa aja deh, saya akan ikuti.
Saya diadili juga siap. Saya bilang, Haryanto Taslam saya perintahkan nggak untuk ditangkap? Tidak ada. Tapi saya ambil alih tanggung jawab. Di DKP pun saya katakan bahwa anak-anak itu tidak bersalah.
Mereka adalah perwira-perwira yang terbaik. Saya tahu persis karena saya komandan mereka. Cek saja rekamannya di DKP. Tapi bahwa mungkin mereka salah menafsirkan, terlalu antusias, sehingga menjabarkan perintah saya begitu, ya bisa saja. Atau ada titipan perintah dari yang lain, saya tidak tahu. Intinya, saya mengaku bertanggung jawab.
 
Apa memang ada pihak yang ikut nimbrung saat itu memberikan perintah?
Bisa saja. Saya tidak tahu. Tapi tetap apa yang sudah terjadi adalah tanggung jawab saya. Tetap itu anak buah saya. Saya kan mesti percaya sama anak buah. Makanya saya nggak apa-apa diberhentikan.
Saya nggak heran. Ini risiko saya. Iya kan?
Tapi kalau kemudian saya sudah berhenti, masih diisukan ini, itu, dibuat begini, begitu. Ah..., saya merasa dikecewakan oleh Pak Wiranto. Saya merasa harusnya dia tahu situasinya saat itu bagaimana. Dia tahu kok ada perintah penyelidikan itu. Begitu dia jadi pangab, saya juga laporkan, sedang ada operasi intelijen, sandi
yudha, begini, begitu. Kepada beberapa menteri Pak Harto ngomong bahwa itu operasi intelijen. Tapi begitu Pak Harto tidak berkuasa, situasinya dimanfaatkan oleh perwira yang ingin menyingkirkan saya.

Apa betul AS berkepentingan agar Anda dipecat?
Tidak tahu. Tapi Cohen (Menhan AS William Cohen, Red.) kan ketemu saya juga.

Perintahnya menyelidiki kok bisa kepeleset menculik. Bagaimana itu?
Ya. Tapi dalam operasi intelijen itu kan biasanya kita ambil, ditanyai, dan kalau bisa terus dia berkerja untuk kita. Kan begitu prosedurnya. Sudahlah, itu kesalahan teknis, yang kemudian dipolitisasi. Dan memang waktu itu saya harus dihabisi. Dulu Jenderal Soemitro dituduh terlibat Malari, mau menyaingi Pak Harto. Pak H.R. Dharsono dituduh terlibat kasus Tanjung Priok. Itu politik. Yang kemudian naik orang yang nggak bisa apa-apa, nggak pernah bikin inisiatif dan karenanya tidak pernah bikin salah. 
Lihat Prancis, itu kan negara yang menjunjung tinggi hak asasi manusia. Tapi, dia ledakkan kapal Greenpeace yang mau masuk ke perairan nasionalnya. Kalau sudah kepentingan nasional dia ledakkan itu.
 
Anda kan lama di luar negeri, besar di negara yang liberal, dan menjunjung tinggi hak asasi manusia. Kok Anda tetap mentolerir gaya penangkapan atau penculikan itu? Bukankah itu menjadi sorotan dunia internasional terhadap penegakan HAM di Indonesia?
Benar. Begini, secara moral, saya tidak salah karena orang-orang itu berniat berbuat kejahatan yang bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Menurut saya membuat aksi pengeboman, membakar terminal, untuk mengorbankan orang-orang tidak berdosa. Mereka justru membahayakan hak asasi manusia orang lain. Tidak bisa dong. Kalau you berbeda dalam politik, you bertempur lewat partai politik. Jangan bikin aksi teror.
Informasi soal rencana pengeboman itu didapat dari interogasi, bukan kita ngarang. Dapat keterangan dari mereka. Anda dengar ancaman bom tiap minggu. Seluruh bank tutup, BI tutup. Korban kepada bangsa bagaimana. Itu aksi destabilisasi. Jadi, jangan salah, untuk menegakkan demokrasi, kita justru harus menjaga keamanan. Tidak bisa demokrasi tanpa keamanan. Itu duty kita, panggilan kita. Tapi, lawan-lawan saya lebih kuat. Punya media massa, punya kemampuan untuk perang psikologi massa.
 
Kok Anda dulu tidak segera membantah kalau memang merasa tidak bersalah?
Hashim memang menyuruh saya. Kamu harus jawab dong. Saya malas juga.
Saya kan tidak berbuat. Saya percaya kebenaran akan muncul. Hashim bilang, "Tidak bisa dong kalau kamu diam berarti kamu mengakui itu benar." 
Memang ada teori itu. Teori pengulangan kebohongan. Kalau diulang-ulang terus, orang jadi percaya. Itu teori yang digunakan Hitler kepada rakyat Jerman.

Anda tidak mau nuntut soal pemecatan itu karena tidak ingin mempermalukan Pak Harto?
Benar, terutama itu. Juga tak ingin mencemari institusi ABRI, khususnya TNI AD. Bagaimanapun juga Pak Harto jenderal bintang lima.
Ini kan tidak baik dalam iklim dan budaya bangsa Indonesia. Apa pun yang terjadi. Ada masalah dilematis, bagaimanapun dia kakek dari anak saya. Itu yang dilematis. Walaupun dia kemudian membenci saya.
 
Dalam pemeriksaan di TGPF, ada kesan kegiatan Anda pada 13 Mei 1998 tidak diketahui. Muncul kecurigaan, Anda sedang apa saat itu? Apa sih yang Anda lakukan hari itu?
Saya mulai dari 12 Mei 1998. Malam itu, pukul 20.00 wib, ketika di rumah Jl. Cendana No. 7, saya ditelepon Sjafrie (pangdam Jaya saat itu, Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin). 
Kata dia, "Gawat nih Wo, ada mahasiswa yang tewas tertembak." 

Saya lalu bergegas ke Makostrad. Saya sudah antisipasi, besok pasti ramai. Maka pasukan saya konsolidasi. Kalau perlu tambahan pasukan kan mesti disiapkan tempatnya. Mau ditaruh di mana mereka. Malam itu saya terus memantau situasi. Lalu, terpikir oleh saya, kelanjutan rencana acara Kostrad di Malang pada 14 Mei 1998. Rencananya inspektur upacara adalah Pangab Wiranto.
Pangkostrad juga harus hadir. Kalau ibu kota genting, apa kita masih pergi juga?

Keesokan harinya, sejak pukul 08.00 wib, saya mengontak Kol. Nur Muis dan menyampaikan usulan agar acara di Malang ditunda. Atau, kehadiran pangab dibatalkan saja karena situasi ibu kota genting. Biar saya saja yang berangkat. Jawaban dari Pak Wiranto yang disampaikan lewat Kol. Nur Muis, acara tetap berlangsung sesuai rencana. Irup tetap Pak Wiranto dan saya selaku pangkostrad tetap hadir. Beberapa opsi usulan saya tawarkan kepada Pak Wiranto, yang intinya agar tidak meninggalkan ibu kota, karena keadaan sedang gawat. Posisi terpenting yang harus diamankan adalah ibu kota. Tapi, sampai sekitar delapan kali saya telepon, keputusan tetap sama. Itu terjadi sampai malam hari.

Jadi, pada 14 Mei, pukul 06.00 wib kita sudah berada di lapangan Halim Perdanakusumah. Saya kaget juga. Panglima utama ada di sana. Danjen Kopassus segala ikut. Saya membatin, sedang genting begini kok seluruh panglima, termasuk panglima ABRI malah pergi ke Malang. Padahal, komandan batalion sekalipun sudah diminta membuat perkiraan cepat, perkiraan operasi, begini, lantas bagaimana setelahnya. Tapi, yasudah, saya patuh saja pada perintah. Saya ikut ke Malang.

Kembali ke Jakarta sekitar pukul 11.00 wib. Ketika hendak mendarat di Halim, ibu kota terlihat diselimuti asap hitam. Selanjutnya, seperti telah ditulis di berbagai media massa, saya membantu mengingatkan Sjafrie perlunya mengamankan ibu kota lewat patroli dengan panser di sepanjang Jl. Thamrin. Malam harinya, saya bertemu dengan sejumlah orang di Makostrad. Itu yang kemudian dituduh mau merencanakan kerusuhan. 

Padahal, di tengah jalan sore itu saya ditelepon, karena Setiawan Djodi dan Bang Buyung Nasution ingin bertemu. Ternyata sudah ada beberapa orang di kantor saya, ada Fahmi Idris, Bambang Widjojanto, dan beberapa orang lain. Itu pertemuan terbuka, membicarakan situasi yang terakhir. Bang Buyung dominan sekali malam itu. Dia banyak bicara. Acara ditutup makan malam dan kemudian kami ada rapat staf di Mabes.

Kalau kemudian surat Muladi mengatakan saya bersalah karena gagal menjaga keselamatan negara sehingga menimbulkan kerusuhan 13-14 Mei, bagaimana ceritanya. Pangkoops, selaku penanggung jawab keamanan ibu kota adalah Pangdam Sjafrie?
Mestinya iya. Penanggung jawab yang lebih tinggi ya panglima ABRI.

Dalam pemeriksaan di TGPF, mantan Ka BIA Zacky Makarim, konon mengatakan bahwa sebulan sebelum peristiwa Trisakti, ada perkiraan situasi intelijen versi Anda, yang mengatakan, eskalasi meningkat dan dikhawatirkan akan ada martir di kalangan mahasiswa. Bagaimana Anda sampai pada kesimpulan itu?
Situasinya memang demikian. Aksi mahasiswa kan bukan cuma di Jakarta, melainkan meluas ke daerah. Di Yogyakarta, aksi mahasiswa malah sempat bentrok. Berdasarkan analisis situasi, saya mengingatkan kemungkinan adanya eskalasi yang memanas dan kalau aksi mahasiswa meluas, bukan tidak mungkin jatuh korban atau ada pihak-pihak yang ingin ada korban di pihak mahasiswa. Itu saya ingatkan.
 
Tapi, justru Anda dituduh bertanggung jawab atas penembakan mahasiswa Trisakti?
Iyalah. Saya ini selalu dituduh. Apa untungnya bagi saya membuat jatuh korban? Saat itu kan presidennya Pak Harto. Mertua saya. Saya bagian dari status quo itu. Kan begitu tuduhannya. Masak saya membuat situasi agar Pak Harto jatuh. Pak Harto jatuh kan saya jatuh juga. Sejarah kan begitu kejadiannya.
 
Mungkin Anda ingin menunjukkan bahwa Wiranto tidak kapabel mengamankan Jakarta?
Tidak ada alasan juga. Motifnya tidak ada.

Bukankah Anda pernah disebut-sebut minta jabatan pangab dan katanya dijanjikan Habibie untuk jadi pangab?
Lebih dari tiga kali Habibie mengatakan kepada saya. "Bowo, kalau saya jadi presiden, you pangab." Itu faktanya. 
Habibie bahkan mengatakan saya ini sudah dianggap anak ketiganya. Saya memang dekat dengan Habibie, karena saya mengagumi kepandaiannya, visinya.
Meskipun sekarang saya kecewa karena dia menuduh saya berbuat sesuatu yang bohong. Saya merasa dikhianati. Bahwa saya ingin jadi pangab, apakah itu salah. Setiap prajurit, tentara, tentu bercita-cita menjadi pangab. Why not? Saya tidak pernah menyembunyikan itu. Bahwa kemudian dipolitisasi, seolah-olah pada saat genting, saat pergantian kepemimpinan 21 Mei 1998 itu, saya minta jadi pangab, silakan saja.
Tapi, saya tak pernah minta jadi pangab kepada Habibie.
 
Benar tidak Anda pernah didesak jadi pangab sekitar 19-20 Mei itu?
Ada yang mendesak. Bahkan ada yang mengusulkan agar saya mengambil alih situasi. Saya tolak. Saya orang yang konstitusional. Wapres masih ada dan sehat. Menhankam/Pangab masih ada. Tidak ada alasan untuk mengambil alih. Kalau saya melakukan kudeta, setelah itu mau apa? Inkonstitusional, tidak demokratis, dan lebih berat lagi, secara psikologis saya ini kan terkait dengan keluarga Pak Harto. Kalau Pak Harto sudah menyerahkan ke Habibie, masak saya mau kudeta? Di luar itu semua, yang terpenting, saya berasal dari keturunan keluarga pejuang.
Anda tahu paman saya gugur sebagai pahlawan muda. Kakek saya pejuang.
Moyang saya, selalu berjuang melawan penjajah kolonial Belanda.
Bagaimana mungkin saya menodai garis keturunan yang begitu saya banggakan, dengan berpikir mengambil alih kekuasaan secara inkonstitusional.
 
Ketika Habibie mengatakan Anda datang menemui Habibie pada 22 Mei 1998, benarkah Anda membawa senjata dan pasukan sehingga Habibie merasa terancam?
Senjata saya tanggalkan di depan pintu. Jangankan menghadap presiden, wong menghadap komandan kompi saja senjata harus dicopot. Bohong besar berita yang mengatakan saya hendak mengancam Habibie.
Jujur saja, kalau memang saya ingin, bisa saja. Jangan meremehkan pasukan Kopassus, tempat saya dibesarkan. Ingat, Pak Sarwo Edhi (almarhum) hanya butuh dua kompi untuk mengatasi situasi saat G-30-S/PKI. 
Dan anak buah saya memang ada yang sakit hati saya diberhentikan seperti itu. Pataka komando hendak diambil begitu saja tanpa sepengetahuan saya. Saya datang ke Habibie karena sebelumnya dia selalu berkata. "Bowo, kalau ada keragu-raguan, jangan segan-segan menemui saya." Itulah yang saya lakukan. Menemui Habibie untuk bertanya apakah betul dia ingin mengganti saya dari jabatan pangkostrad. Habibie bilang turuti saja perintah atasan. Ini kemauan ayah mertua kamu juga. Jadi, Pak Harto memang minta saya diganti.
 
Soal anggapan bahwa para jenderal ingin menyingkirkan Anda, apakah ini disebabkan oleh sikap Anda sebelumnya yang disebut arogan, karena dekat dengan pusat kekuasaan?
Saya akui, itu ciri khas. Dan itu jadi senjata buat yang ingin menjatuhkan. Tapi kita lihat kepemimpinan itu dari output. Bisa tidak meraih prestasi kalau prajuritnya tak semangat. Semangat itu tidak bisa dibeli dengan uang. Kadang-kadang mereka mau mati karena bendera. Kain itu harganya berapa? 
Tentara Romawi mati-matian demi bendera. Itu kan kebanggaan. Bagaimana? Saya ciptakan teriakan, berapa harganya? Saya dapatkan dari gaya suku dayak. Teriakan panjang itu bisa membangkitkan semangat, mengurangi ketakutan, dan menakutkan musuh. Pakai duit berapa? 
Tapi hal-hal ini tidak populer di mata the salon officer. Apa nih Prabowo pakai nyanyi-nyanyi segala. Pakai
bendera, pakai teriakan. Kenapa orang fanatik membela sepakbola, sampai membakar, ini psikologi massa. Masa kita mau mati karena uang?
Buat apa uangnya kalau kita harus mati.
 
Sebagai menantu presiden saat itu, tentu Anda lebih mudah naik pangkat dibanding yang lain. Ini bikin cemburu juga kan?
Ya, tapi akses kepada penguasa politik. Itu wajar. Jenderal Colin Powell, peringkat ke berapa dia bisa jadi pangab AS. Dia bekas sekretaris militer Bush waktu jadi wakil presiden. Jadi, waktu Bush jadi presiden, dia jadi pangab. Bahwa saya punya akses kepada penguasa politik, saya sependapat. Tapi kan bukan hanya saya. Pak Wiranto kan dari ajudan presiden. Langsung kasdam, langsung pangdam, langsung pangkostrad. Itu kan tuduhan saja kepada saya. Coba dilihat berapa kali saya VC (kontak senjata langsung di medan operasi), berapa kali bertugas di daerah operasi, berapa kali tim saya di Kopassus merebut kejuaraan, berapa kali operasi militer saya selesaikan, apa yang saya buat di Mount Everest itu kan mengangkat bangsa. Berapa saya melatih prajurit komando dari beberapa negara. Itu kan tidak dilihat. Yang dicari cuma daftar dosa saya. Ya memang kalau you dalam keadaan kalah politik, segala dosa bisa ditemukan. Dia keluar negeri nggak izin, dia ini, dia itu. Semua bisa ketemu. Kalau menang? Itu kan politik.

(rim/inilah/sumber2/Panji)

Jumat, 11 April 2014

HASIL PEMILU LEGISLATIF 1999, 2004, 2009

Hasil pemilu legislatif 1999
1. PDIP 35.689.073 (33,74%) = 153 kursi
2. GOLKAR 23.741.749 (22,44%) = 120 kursi
3. PKB 13.336.982 (12,61%) = 51 kursi
4. PPP 11.329.905 (10,71%) = 58 kursi
5. PAN  7.528.956 (7,12%) = 34 kursi
6. PBB 2.049.708 (1,94%) = 13 kursi
7. Partai Keadilan 1.436.565 (1,36%) = 7 kursi
8. PNU 679.179 (0,64%) = 5 kursi
9. Partai-partai kecil yang hanya mendapatkan 1-2 kursi

Hasil pemilu legislatif 2004
1. GOLKAR 24.480.757 (21,58%) = 128 kursi.
2. PDIP 21.026.629 (18,53%) = 109 kursi.
3. PKB 12.002.885 (10,61%) = 52 kursi
4. PPP  9.248.764 (9,15%) = 58 kursi,
5. Partai Demokrat 8.437.868 (7,46%) = 57 kursi,
6. PKS 8.144.457 (7,20%) = 45 kursi,
7. PAN 7.255.331 (6,41%) = 53 kursi.
8. PBB 2.970.487 (2,62%) = 11 kursi
9. PBR 2.764.998 (2,44%) = 14 kursi
10. PDS 2.414.254 (2,13%) = 13 kursi
Sisanya beberapa partai hanya mendapatkan 1-4 kursi

Hasil pemilu legislatif 2009
1. Demokrat 21.703.137 (20,85 %) = 148 kursi
2. Golkar 15.037.757 (14,45 %) = 108 kursi
3. PDIP 14.600.091 (14,03 %) = 93 kursi
4. PKS 8.206.955 (7,88 %) = 59 kursi
5. PAN 6.254.580 (6,01 %) = 42 kursi
6. PPP 5.533.214 (5,32 %) = 39 kursi
7. PKB 5.146.122 (4,94 %) = 26 kursi
8. Gerindra 4.646.406 (4,46 %) = 30 kursi
9. Hanura 3.922.870 (3,77 %) = 15 kursi
10. PBB 1.864.752 (1,79 persen)

Bagaimana dengan hasil pemilu legislatif tahun 2014 yang baru dilaksanakan hari Rabu 9 April 2014 kemarin??? Perhitungan dari KPU sendiri dan juga hasil kursi yang didapat baru akan selesai sekitar awal Mei 2014.

Pastinya hasil total atau prosentase total yang besar belum tentu mendapatkan kursi yang banyak, sebabnya karena perhitungan perolehan kursi berlainan jumlah pembaginya di masing-masing dapil. Misalkan di pulau Jawa dengan 100.000 suara mendapatkan satu kursi, namun bisa jadi di Papua bisa mendapat 2-3 kursi.

Admin ambil contoh pada pemilu tahun 2004,
PKB 12.002.885 suara, mendapat 52 kursi di DPR RI, sedangkan PPP  yang hasil totalnya dibawah PKB yaitu sebesar 9.248.764 suara berhasil mendapatkan 58 kursi. Ini terjadi mungkin karena PPP lebih mempunyai jaringan yang luas di berbagi pelosok luar pulau Jawa yang nilai pembaginya lebih kecil. Sedangkan kemungkinan PKB justru mendapat suara lebih banyak di pulau Jawa saja.

Kamis, 03 April 2014

HASIL PEMILU LUAR NEGERI (MALAYSIA DAN HONGKONG)

TKI atau Tenaga Kerja Indonesia adalah para pekerja Indonesia diluar negeri. Ketika kita menyebut TKI, maka yang terbayang disebagian besar benak kita adalah: orang bodoh karena hanya menjadi pembantu diluar negeri, tidak di gaji bahkan di siksa. Tapi kenyataan itu salah besar, banyak TKI terutama TKW yang bekerja dibidang yang cukup terpandang, ada yang jadi pengusaha, dokter, kontraktor dll. seperti halnya di Indonesia sendiri, tentunya lebih banyak yang kerja menjadi buruh pabrik atau perkebunan dan pembantu rumah tangga.

Eitsss... Admin bukan mau nulis artikel tentang itu, tapi tentang hasil pemilu legislatif luar negeri yang dilaksanakan 3 April 2014. Walaupun baru hasil dari dari Quick Count, bukan data resmi dari KPU.

Exit Poll Pemilu Luar Negeri, PKS Menang di Malaysia
CORAK (Corong Aspirasi Rakyat) adalah lembaga independen yang akan melakukan survey. Kami terdiri dari mahasiswa lintas Universitas di Malaysia dan tidak secara langsung dibawah PPI (secara struktur organisasi kami independen tapi secara individu dibawah PPI). Kami mempunyai 2 metode survey:
1. Exit Poll yaitu menanyai beberapa orang yang baru selesai mencoblosKami mengambil secara acak 50 orang untuk sampel dengan pertanyaan tunggal: tadi memilih partai apa ???
2. Survey, apa pilihannya dan apa alasannya memilih.

Metode kedua ini kami lakukan berdasarkan Cluster Random Sampling dengan cluster TKI, Ekspatriat dan Pelajar dengan proporsi sesuai dengan populasi dengan margin error 3,2% dan tingkat kepercayaan 95%. Jumlah responden 1200 yang tersebar di KL, Selangor, Johor,Penang, Perak, Pahang, Negeri Sembilan, Melaka, Terengganu, Kelantan.

Yang sudah melakukan pencoblosan sampai hari ini (3/4/2014) adalah Sabah, Serawak dan KL (Pabrik Western Digital). Ke 50 orang yang ditanya menjawab sebagai berikut :
PKS (17 orang) =34% PDIP (15 orang) =30% PD (10 orang) =20% Golkar (8 orang) =16%
Ternyata PKS mendapatkan tempat yang cukup tinggi di masyarakat Indonesia yang tinggal di Malaysia, khususnya di KL dan sekitarnya.

Sedangkan survey yang dilakukan mendapatkan hasil sebagai berikut :
PKS (30.2%) Golkar (22.4%) PDIP (16.1%) PD (9.4%) Gerindra (5.2%) Hanura (3.3%) Lain2 (13.4%)
Terlihat lagi2 PKS mendapatkan suara terbanyak dibandingkan tempat lain. Untuk mengeksplorasi alasan memilih partai itu, kami menanyakan alasan mereka memilih partai tertentu.

Apa alasan bapak/ibu memilih partai tersebut ?
Sebagian besar Pemilih PKS (61.92%) memilih karena aktivitas PKS yang perhatian terhadap mereka antara lain pengajian/ taklim, kursus-kursus ketrampilan. Sisanya tersebar karena kenal, percaya dengan partai dsb. Temuan ini cukup mengejutkan karena kalau dalam media-media utama PKS selalu dicitrakan ideologis. Ternyata persepsi masyarakat berbeda dengan yang dicitrakan media.

Sedangkan pemilih Golkar (81.70%) karena gambar yang diketahui dan percaya terhadap kiprahnya dulu.
Sedangkan 63.35% dari pemilih PDIP beralasan bahwa mereka memilih karena faktor ideologi/ agama, dan dibawah itu (26.70%) memilih karena faktor Jokowi. Temuan ini juga sedikit mengejutkan. Anggapan yang beredar di media massa, pemilih PDIP akan sangat dipengaruhi oleh jokowi effect. Ternyata dalam survey pemilih terbesar justru karena alasan ideologis/ agama, baru faktor jokowi nomer berikutnya dengan persentase kurang lebih setengahnya.

Pemilih PD masih percaya bahwa SBY masih yang terbaik (68.09%). Jadi faktor2 yang lain cukup kecil seperti keberhasilan pemerintahan selama sepuluh tahun, partai yang modern dsb.

Ternyata Faktor Prabowo masih mendominasi alasan mereka memilih Gerindra (71.15%). Mereka beranggapan bahwa kalau Gerindra menang, Indonesia akan dipimpin oleh pemimpin yang tegas dan merakyat.

Faktor Wiranto bagi pemilih Hanura ternyata tidak terlalu signifikan (48.49%) dibandingkan kinerja partai, yaitu partai bersih (33.33%).
Catatan:
1. Dari hasil survey itu ternyata, ada perbedaan antara citra yang ada di media massa dan dalam masyarakat. Utamanya PKS dan PDIP yang berbalikan secara posisi. PKS dikenal karena kiprahnya sedangkan PDIP karena ideologi/ agamanya.
2. Hasil survey ini memberikan hasil yang mengejutkan bagi PKS karena, perolehan suaranya yang meningkat tajam di Malaysia. Kalau 2009 hanya mendapat peringkat ke 4 dalam kisaran 7% ternyata dalam survey, 2014 PKS di Malaysia mendapatkan lebih dari 30%. Sedangkan partai2 lain fluktuasi suaranya masih tidak terlalu terlihat.

Di Hongkong PKS juga menang
Di Hongkong Exit Poll dilakukan oleh 16 relawan dari Indonesia yang dibantu 3 orang warga Hongkong. Survey dilakukan kepada 3883 orang dari 7000an orang pemilih yang menggunakan hak pilihnya di TPS-TPS di kota Hongkong pada tanggal 30 Maret 2014.
Dan inilah hasilnya:
NASDEM: 83
PKB: 211
PKS: 2153
PDIP: 501
GOLKAR: 393
GERINDRA: 106
DEMOKRAT: 259
PAN: 138
PPP: 51
HANURA: 66
PKPI: 12

Minggu, 15 September 2013

ACHMAD RU'YAT ATAU BIMA ARYA UNTUK KOTA BOGOR ???

Setelah Kabupaten Bogor melaksanakan pemilihan Bupati Ahad kemarin, Sabtu 14 September giliran Kota Bogor melakukan pemilihan Wali Kota. Dua calon wali kota (Cawalkot) Bogor Achmad Ru'yat dan Bima Arya saling mengklaim telah memenangkan Pilkada Kota Bogor melalui hitung cepat versi masing-masing.

Hasil perhitungan cepat tim Ru'yat-Aim menyebutkan bahwa Pilwalkot 2013 berlangsung satu putaran dengan kemenangan pasangan nomor urut 3 yaitu Achmad Ruyat dan Aim Halim Hermana dengan perolehan suara sebesar 35,2 persen.

Diikuti oleh pasangan nomor urut dua Bima Arya–Usmar Hariman dengan perolehan suara 31,8 persen suara. Sedangkan pasangan nomor empat Dody Rosadi-Untung W Maryono memperoleh suara 15,4 persen. Pasangan nomor lima Syaiful Anwar-Muztahidin al-Ayubi  dengan 10,5 persen suara. Sementara Firman S Halim-Gartono meraih 7,1 persen suara.

Hitung cepat tim Ru'yat-Aim dilakukan dengan metode systematic random sampling dari 250 sampel TPS yang melibatkan 81.327 pemilih. Sampling error metode ini sebesar 0,3 persen.

Ketua Tim Sukses Ru’yat-Aim, Iwan Suryawan menyampaikan kemenangan kubunya merupakan kemenangan warga Bogor. Sebab, pilwalkot Bogor adalah agenda bersama masyarakat Bogor.

''Pilwalkot ini adalah agenda bersama masyarakat Kota Bogor. Pasangan Ru’yat-Aim yang diusung oleh PKS, PPP dan Hanura ini pun memang diusung untuk memberikan pengabdian kepada masyarakat Bogor,'' kata Iwan.

Di tempat terpisah, tim Bima Arya mengumumkan keunggulannya dari empat cawalkot lainnya. Dari hitung cepat yang dilakukan timnya, pasangan calon nomor tiga Bima Arya-Usmar Hariman unggul di kecamatan Bogor Barat, Bogor dan Bogor Timur.

Hasil perhitungan cepat menggunakan metode multistage random sampling menunjukkan keunggulan Bima-Usmar dengan 35,0 persen suara.

Sementara pasangan nomor satu Firman-Gartono 6,2 persen. Pasangan nomor tiga Ru'yat-Aim dengan 33,1 persen. Pasangan nomor empat Dody-Untung 15,7 suara dan pasangan nomor lima Syaiful-Muztahisin dengan 10,1 persen.

''Saya berterima kasih kepada warga Bogor yang memilih perubahan. Hasil hitung cepat ini harus terus dikawal sampai keluar hasil dari KPUD,'' kata Bima.

Melihat hasil di atas 30 persen, Bima yakin pilwalkot Bogor hanya berlangsung satu putaran. Kendati ia masih menemukan sejumlah kejanggalan seperti data DPT, undangan C 6.

''Kami memiliki catatan-catatan untuk pilwalkot ini. Walau begitu, saya berterima kasih kepada warga Bogor sehingga proses ini berjalan aman dan damai,'' kata Bima.

Menanggapi hasil survei lain, ia dan tim terus mengantisipasi tafsiran hitung cepat dari lembaga berbeda itu. Ia sendiri terus mengumpulkan fakta jika nantinya menggugat atau digugat.

Ketua DPP PAN, Bara Hasibuan, mengatakan DPP PAN bangga dengan Bima. PAN sudah melihat peluang kuat Bima untuk menang. ''Keyakinan kami seauai hasil hitung cepat lembaga Charta Politica,'' kata Bara.
PAN memandang Pilwalkot Bogor penting karena Bogor merupakan kota strategis penyengga ibukota. Ia juga menilai Bima punya kapasitas.  ''Kami serukan semua pihak untuk menjaga proses ini dengan jujur dan profesional tanpa manipulasi,'' ujar Bara.

Melihat hasil quick count yang berbeda dari beberapa lembaga atau organisasi, ada kemungkinan pasangan Bima-Usmar (PAN) atau Ru'yat-Aim (PKS) adalah pemenang pemilihan wali kota Bogor 2013 dengan suara diatas 30%. Sementara pasangan dari PDIP Dody-Untung ada di urutan ketiga dengan perolehan suara 15%.